Urbanisasi dalam Keresahan Tata Ruang Kota Indonesia

 

Tata Ruang menurut Undang Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 Pasal 1 ayat 2 diartikan sebagai wujud struktur ruang dan pola ruang. Struktur ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman dan sistem jaringan prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang secara hierarkis memiliki hubungan fungsional. Pola Ruang adalah distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan ruang untuk fungsi budi daya.Mengutip pernyataan Teguh Kurniawan di dalam artikelnya yang berjudul “Strategi Pengelolaan Kawasan Perkotaan di Indonesia: Kasus Jakarta dan Wilayah Sekitarnya (Sebuah Temuan Awal)”

Parkir Semrawut Bikin Ribut

Pada zaman modern ini sudah banyak terlihat bangunan-bangunan yang berdiri memenuhi lahan kota. Bangunan-bangunan yang dimaksud adalah bangunan yang digunakan untuk perdagangan dan jasa yang mana banyak masyarakat yang nantinya akan selalu berdatangan untuk memenuhi segala kebutuhannya misalnya, mall, hotel, restoran, dan lain-lain. yang mana sangat membutuhkan lahan untuk parkir.

Viral! Di Sleman, Angkutan Umum Sekarat dan Tiada Seorangpun yang Peduli! - Bagian II

Angkudes Sleman di Terminal Prambanan (2015)

sumber : (http://harianjogja.bisnis.com/)

 

Dengan berbagai kemudahan dan kemurahhatian yang diberikan kepada penumpangnya, mengapa kemudian angkot dan bus di Sleman mati perlahan-lahan?

Setelah mengkaji permasalahan pertama mengenai desain trayek dan desain kendaraan,  mari kita tinjau alasan mengapa pengguna angkot dan bus menghilang perlahan-lahan dari sisi sopir serta penumpang.

Viral! Di Sleman, Angkutan Umum Sekarat dan Tiada Seorangpun yang Peduli! - Bagian I

Ilustrasi: Penulis dan Maudy Ayunda sedang Menunggu Angkutan Umum yang Tak Kunjung Datang Sambil Membaca Buku Bunga Rampai Tebak-Tebakan Lucu Pilihan 2017

Namanya Jan dan dia berasal dari Jerman. Saya berjumpa dengannya di pinggir Jalan Palagan Tentara Pelajar. Ya di pinggir jalan, di bawah pohon perindang. Kalau Pembaca mengira saya berjumpa dengannya hanya sekali, biar saya beritahu bahwa itu adalah sebuah kesalahan. Saya berjumpa dengannya dua kali, dalam dua hari berturut-turut, dan di bawah pohon yang sama. Perjumpaan pertama kami cukup unik. Kala itu, saya yang sedang naik motor secara mlipir dengan kecepatan lambat dikejutkan oleh unjukkan jempol dari seseorang yang berada di pinggir jalan, yang saya pahami sebagai gestur ‘tolong-tebengin-saya’. Ya, dialah Jan, sosok bule Jerman, yang menurut pengakuannya ketika itu  ingin naik angkot ke terminal Trans Jogja terdekat di perempatan Monjali, sekitar tiga kilometer dari tempatnya menunggu. Jan mengungkapkan pula bahwa ketika itu dia sudah menunggu lama sekali, sekitar dua jam, dan dia yang datang ke Jogja untuk berlibur hampir saja kehilangan satu hari yang berharga untuk menikmati liburannya.

The Best betting exchange http://f.artbetting.net/
Full reviw on bet365 b.artbetting.net by artbetting.net
www.bigtheme.net