Kondisi Kota di Indonesia Sumber: (dari kiri ke kanan) www.nemupalu.blogspot.com, www.kaskus.com, www.fotolia.com

Ini tentang apa yang sedang kita hadapi, dunia yang kita tempati sekarang menghadapi realitanya menjadi dunia yang semakin mengkota. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) meramalkan bahwa, dari tahun 1950 sampai tahun 2025, jumlah penduduk kota akan meningkat tujuh kali lipat. Ya, tujuh kali lipat, dari angka 738 juta menjadi 5,1 miliar jiwa (Yananda dan Salamah, 2014). Kota-kota di seluruh dunia akan semakin dipenuhi manusia, karena, sepanjang sejarah umat manusia, kota tidak pernah kehilangan daya tariknya.

Kota menjadi lambang modernitas dan keberadaban, seperti yang diungkapkan sosiolog Polandia Zygmunt Bauman, “not all life is modern, but all modern life is city life” (Kamil, 2015). Kota yang awalnya hanya merupakan suatu habitat kecil dimana para kaum nomad berkumpul dan berlindung dari gangguan cuaca dan hewan ganas, menjadi sebuah megalopolis yang semakin raksasa dan mengglobal. Dari berbagai realita diatas, apakah ramalan Lewis Mumford dan Arnold Toynbee akan terbukti, bahwa hakikat manusia adalah menjadi makhluk urban, dan pilihan hidup berkota menjadi sebuah takdir yang tidak bisa dielakkan? (Santoso, 2006), atau memang ramalan itu sudah terbukti sekarang?

Ketika hidup berkota, seorang manusia seharusnya bisa mengikuti ritme hidup berkota. Hidup berkota membawa konsekuensi untuk senantiasa memperhatikan empat aspek penting, yaitu densitas, heterogenitas, anonimitas dan intensitas sosial (Kamil, 2015), tetapi empat aspek diatas selalu luput dari pemikiran dan perhatian warga yang memilih hidup berkota. Membuat bangunan tanpa memperhatikan keberlanjutan lingkungan, memiliki kendaraan bermotor yang melebihi kebutuhan, selalu memikirkan hak tanpa peduli kewajiban, hilangnya toleransi dan respek terhadap sesama manusia dan lingkungan, adalah gambaran betapa tidak siapnya kita dalam menghadapi realita hidup berkota. Lucunya, ketidaksiapan ini lebih banyak ditunjukkan oleh masyarakat kelas atas, dengan perilaku hedonistiknya. Pun ketika dihadapkan pada suatu kesulitan yang menghadang, seorang insan urban bisa saja berubah menjadi manusia yang tidak memperdulikan lagi sesamanya, saling sikut saling jegal, memperlihatkan wajah manusia sebagai homo homini lupus.

Memang terlihat menggelitik, tapi, apa yang terjadi saat ini secara perlahan akan membawa kehancuran bagi masa depan hidup berkota. Mungkin suatu saat, dehumanisasi kota akan menjadi nyata. Kota tidak lagi didesain untuk manusia, tetapi kota akan didesain untuk para robot yang hanya memikirkan kepentingan diri sendiri, yang antisosial.

Walaupun diliputi berbagai “kesuraman”, banyak hal yang masih bisa diperbaiki, walaupun harus dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan, bukan sebuah proyek revolutif yang bisa berhasil dalam hitungan bulan atau tahun. Pada dasarnya, ketika seseorang memilih untuk tinggal dan hidup di kota, dia harus mengerti dan memahami aturan dan etika sosial serta moral dalam berkota dan bisa mengembangkan budaya berkota, yang setidaknya akan menumbuhkan pemahaman atas esensi dan nilai-nilai filosofis dalam hidup berkota. Budaya berkota menempatkan kota pada posisi yang semestinya, yang berdasarkan pada konsensus, pada “kontrak sosial” mengenai bagaimana menggunakan ruang yang ada, baik secara bersama-sama maupun secara berganti-ganti (Kusumawijaya, 2004), bukan dijadikan sebagai komoditas, yang bisa diperjualbelikan dan diperlakukan seenaknya. Budaya berkota ini harus distrukturkan, agar menjadi kultur yang membumi, yang senantiasa menjadi pedoman.

Sebagai contoh di Singapura, warga Indonesia yang biasanya hidup “seenaknya”, ketika melancong ke Singapura, bisa berubah menjadi manusia yang sangat disiplin dan mengikuti aturan-aturan yang berlaku dalam kehidupan kotanya, dan memang aturan-aturan disana menciptakan budaya dan tata perilaku yang baik dalam berkota. Walaupun bersifat memaksa, lihat apa yang terjadi disana, Kota Singapura memiliki wajah yang lebih “manusiawi” untuk ditinggali.

Di masa depan perlu dipikirkan pula sebuah mata pelajaran muatan lokal untuk para pelajar yang hidup di wilayah perkotaan, yang berisi tentang aturan dan etika sosial dan moral, budaya berkota, yang diangkat dari berbagai kajian interdisipliner, seperti ilmu sosiologi, psikologi, pendidikan lingkungan hidup, budi pekerti, dan ilmu-ilmu lain, yang bertujuan menciptakan generasi muda yang “tangguh” dalam kenyataan hidup berkota saat ini. Jangan sampai, para generasi urban muda menjadi lost generation, tidak tahu siapa dirinya, dan tidak tahu sedang berada dimana.

Satu hal lagi yang penting, adalah perlu untuk menumbuhkan rasa memiliki terhadap kota (sense of belonging). Menumbuhkan rasa memiliki dan rasa cinta terhadap kota dapat dilakukan seperti menggunakan fasilitas umum sebagaimana mestinya, sedikit berjalan-jalan dan menikmati suasana kota yang selama ini luput dari perhatian, duduk bersama dan menikmati ruang terbuka publik, kritis tentang problema perkotaan yang terjadi, adalah cara-cara kecil yang bisa kita lakukan untuk mencintai kota, untuk menegakkan batang terendam yang bernama “Kota untuk Manusia”. Ketika muncul rasa memiliki dan mencintai kota, akan muncul rasa segan untuk “berbuat yang tidak-tidak” terhadap kota yang kita tinggali.

Pada akhirnya, membangun kota bukan saja tentang bagaimana membangun kota secara fisik, tapi membangun manusia didalamnya, berinvestasi pada human capital yang ada. Senada dengan ungkapan Shakespeare, what is the city but the people?

Referensi                                                                                                                                       
Kamil, Ridwan. 2015. Mengubah Dunia Bareng-Bareng. Bandung: Mizan Publishing.
Kusumawijaya, Marco. 2004. Jakarta: Metropolis Tunggang Langgang. Jakarta: GagasMedia.
Santoso, Jo. 2006. Menyiasati Kota Tanpa Warga. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
Yananda, M. Rahmat, dan Ummi Salamah. 2014. Branding Tempat: Membangun Kota, Kabupaten, dan Provinsi Berbasis Identitas. Jakarta: Makna Informasi. 

Adif Rachmat Nugraha
Penulis adalah mahasiswa S-1 Jurusan Manajemen dan Kebijakan Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada. Lahir pada tanggal 30 Maret 1996 dan tumbuh besar di Kota Cirebon, kota kecil di barat laut Provinsi Jawa Barat. Meminati isu-isu perkotaan dan urban governance, penulis merupakan finalis Olimpiade Sains Nasional bidang Geografi Tahun 2013 di Bandung dan sempat beberapa kali mengikuti seminar dan pelatihan tata ruang yang diselenggarakan berbagai lembaga, antara lain Kementerian Pekerjaan Umum.

Penulis dapat dikontak melalui nomor ponsel: 0857-2448-8408, twitter: @adif_nugraha, atau surel: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Add comment


Security code
Refresh

The Best betting exchange http://f.artbetting.net/
Full reviw on bet365 b.artbetting.net by artbetting.net
www.bigtheme.net