Lansekap pemukiman padat penduduk di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (18/3). Dengan rata-rata laju pertumbuhan penduduk mencapai 1,4 persen per tahun atau 135 ribu jiwa per tahun serta kepadatan penduduk di wilayah DKI Jakarta sebanyak 14.476 jiwa per kilometer persegi mampu memicu berbagai masalah khas perkotaan seperti tata ruang, kesehatan, kemiskinan dan kriminalitas. ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf/Spt/14.

Kota, mendengar kata ini setiap orang pasti mendefinisikan secara berbeda-beda sesuai dengan sudut pandangnya. Ada yang menjabarkan kota sebagai tempat dimana manusia dapat memenuhi semua kebutuhan hidupnya, baik kebutuhan barang maupun jasa. Di satu sisi ada pula yang menganggap kota sebagai pusat dari pemerintahan daerah, yang mana bersifat otonom. Dalam perspektif lain dan ada pula yang mendefinisikan kota pusat aglomerasi antar budaya akibat globalisasi.

 

Memang dari tiga penjelasan di atas tidak ada yang benar dan maupun salah. Kota memang pada dasarnya merupakan tempat dimana sebagian manusia tinggal dengan fasilitas publik yang memadai, tempat untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia yang beragam dan lain sebagainya. Namun yang menjadi pertanyaan apakah semua hal positif yang digambarkan masyarakat awam tentang kota benar-benar terwujud dengan benar? Untuk sebagian negara di berbagai belahan dunia mungkin jawabannya benar. Bagaimana dengan kota-kota di Indonesia?

Seperti yang dapat kita lihat sendiri fakta di lapangan bahwa kota di Indonesia memang cenderung mengalami perkembangan, namun perkembangan tersebut kurang memperhatikan komponen-komponen yang ada di dalamnya. Dapat kita ambil contoh Kota Jakarta yang semakin berkembang dengan tumbuhnya gedung perkantoran mewah di sekitarnya, namun jumlah angka pengangguran justru semakin bertambah dikarenakan kurangnya jumlah lapangan pekerjaan.

Jika sebuah kota dianalogikan sebagai tubuh manusia, maka kota tersebut dapat dikatakan tidak seimbang. Kota pun layaknya sebagai tubuh manusia yang mana harus mendapatkan asupan gizi yang seimbang bagi organ tubuh di dalamnya agar tetap sehat. Dibutuhkan perencanaan yang seimbang bagi komponen-komponen kota di dalamnya agar kota tersebut menjadi kota yang sehat tanpa adanya penyakit-penyakit kota, seperti pengangguran, polusi, slum area dan lain-lain.

Simulasi Perwujudan Kota Seimbang

Terkait bagaimana cara mewujudkan kota yang seimbang, dapat dilakukan sebuah simulasi sederhana terkait penggunaan lahan di perkotaan yang dimisalkan secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga, yaitu permukiman, perkantoran industri dan Ruang Terbuka Hijau (RTH).

Simulasi pertama yaitu apabila proporsi guna lahan yang disediakan pemerintah untuk  permukiman lebih besar dibanding RTH dan perkantoran. Dampak positif yang muncul yaitu  berkurangnya slum area dikarenakan masyarakat perkotaan sudah mendapatkan rumah yang layak huni. Namun dampak negatif yang timbul yaitu kurangnya area RTH hijau yang dapat menyerap air sehingga dikhawatirkan kota tersebut akan rentan terhadap bencana banjir. Selain itu kurangnya alokasi lahan untuk perkantoran industri juga dapat mengakibatkan kurangnya jumlah lapangan pekerjaan yang tersedia dan mungkin masyarakat kota tersebut akan memilih untuk mencari pekerjaan hingga ke luar kota.

Simulasi yang kedua yaitu apabila proporsi guna lahan yang disediakan pemerintah difokuskan untuk penyediaan RTH berupa taman kota. Dampak positif yang nantinya dapat dipetik yaitu adanya ruang untuk rekreasi dan kontak sosial bagi masyarakat di kota tersebut. Namun dibalik itu akan muncul beberapa dampak negatif, misalnya kurangnya lahan untuk permukiman dan perkantoran industri, sehingga masyarakat dikhawatirkan akan kesulitan dalam memenuhi kebutuhan akan rumah dan pekerjaan.

Kemudian untuk simulasi yang terakhir yaitu apabila proporsi guna lahan yang disediakan pemerintah difokuskan untuk penyediaan perkantoran industri. Dampak positifnya yaitu jumlah lapangan pekerjaan di kota tentunya akan meningkat karena banyaknya bangunan industri dan perkantoran yang akan menyerap banyak tenaga kerja. Namun di sisi lain, kurangnya lahan untuk RTH dan permukiman tentu akan menimbulkan permasalahan baru, seperti kurangnya wahana untuk melakukan kontak sosial dan meningkatnya slum area dikarenakan keterbatasan lahan.

Dari tiga penjelasan simulasi di atas, mengindikasikan bahwa keseimbangan perencanaan dalam sebuah kota memang sangat perlu untuk diperhatikan. Perencanaan dalam sebuah kota haruslah memperhatikan aspek-aspek penting yang ada di kota tersebut. Pada intinya tidak ada solusi ideal terkait proporsi pembangunan dalam sebuah kota. Jadi tiap-tiap kota harus mampu menemukan dan menentukan keseimbangan-nya sendiri.

 

Deni Yudistira

Penulis merupakan anggota Divisi Mata Kota Komunitas Pemuda Tata Ruang

-Mata Kota Semarang

Add comment


Security code
Refresh

The Best betting exchange http://f.artbetting.net/
Full reviw on bet365 b.artbetting.net by artbetting.net
www.bigtheme.net