Ilustrasi Konsep Aerotropolis
Sumber Gambar: http://blogs.kenan-flagler.unc.edu/2010/12/17/aerotropolis-the-way-well-live-next/

Sejak muncul wacana pembangunan bandara baru Yogyakarta di Kulonprogo dan bandara baru Jawa Barat di Majalengka, mendadak telinga kita jadi sering mendengar istilah “aerotropolis”. Tapi ada nggak sih dari kalian yang masih tetep bingung sama istilah yang sepintas ribet dibaca ini? Nah kalau bingung, yuk coba kita kenalan bentar sama konsep ini ya.

Aerotropolis sendiri adalah salah satu konsep perencanaan kota yang sangat menitikberatkan pada efektivitas, efisiensi, dan kecepatan. Konsep ini dicetuskan oleh John Kasarda pada tahun 2011. Jadi memang sebenarnya aerotropolis ini konsep perencanaan kota yang masih sangat baru.

Kalau kalian pernah mendengar soal aerocity, aerotropolis ini sedikit berbeda konsep dengan aerocity. Konsep aerocity lebih pas untuk merujuk suatu wilayah kota yang sejak dahulu kala memang sudah memiliki bandara. Misalkan saja untuk menyinggung wilayah Boyolali di sekeliling bandara Adisumarmo yang tumbuh menjadi area yang ramai, mengkota, dan mendukung aktivitas bandara. Sedangkan aerotropolis adalah konsep untuk membangun bandara di sebuah lokasi dengan tujuan bukan semata untuk melayani kota yang sudah ada, namun juga untuk melahirkan kawasan perkotaan baru di sekitar bandara.

Konsep dasar aerotropolis ini sendiri aslinya adalah konsep integrasi antara bandara dengan kota metropolis mandiri yang ada di sekitarnya. Jadi aerotropolis bukan semata-mata soal kemegahan atau kemodernan bandara wow jaman now, melainkan lebih ke konsep perencanaan sebuah kota baru. Integrasi bandara-kota ini diharapkan bisa mendorong pengembangan bisnis untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi di kota metropolis tersebut. Tujuan akhirnya jelas untuk meningkatkan aksesibilitas bandara dengan pusat-pusat pertumbuhan kota. Sehingga bisa menghasilkan bentuk integrasi bandara-kota yang tertata, efisien, dan efektif dalam memberikan manfaat.

Lalu adakah konsep perencanaan kota yang bertitik tumpu pada bandara selain konsep aerotropolis? Sampai sekarang penulis belum mengetahui adanya konsep lain yang sungguh-sungguh bertumpu pada pengembangan bandara sebagai aerotropolis. Untuk saat ini justru terdapat beberapa konsep perencanaan yang dapat dikembangkan dengan mengolaborasikan antara konsep asli aerotropolis dengan pengembangan bandara, misalnya TOC (Transit Oriented Community) yang diintegrasikan dengan bandara. Namun bukan tidak mungkin di masa yang akan datang akan hadir konsep baru terkait perencanaan kota yang juga bertumpu pada pengembangan bandara.

Sering pula timbul pertanyaan di benak banyak orang mengenai seberapa luas skala wilayah yang bisa disebut sebagai aerotropolis. Untuk hal yang satu ini, tidak ada jawaban pasti. Sebab aerotropolis merupakan wilayah fungsional yang luasannya dapat saja melewati batas administrasi formal di suatu daerah. Segingga tidak ada batasan yang jelas mengenai seberapa jauh radius aeorotropolis ini. Akan tetapi aerotropolis sejatinya terbentuk dari wilayah pusatnya yaitu airport city atau kompleks inti bandara dengan didukung wilayah di sekitarnya. Sehingga terjadi integrasi yang dapat memberikan manfaat dari adanya bandara sebagai inti dari airport city. Oleh karena itu batasan dari aerotropolis seringkali menjadi sangat bias. Meskipun Kasarda sendiri mensyaratkan luas maksimal aerotropolis tidak melebihi radius 30 kilometer dari bandara.

Oh ya, hampir aja kelupaan, konsep aerotropolis ini beda lho dengan konsep TOD (Transit Oriented Development). Meskipun kedua konsep itu sama-sama bertumpu pada perpindahan (transit) manusia, tapi titik berat TOD dan aerotropolis sangat berbeda. TOD menitikberatkan pada transportasi darat seperti bus dan kereta api. Maka kawasan TOD biasanya dikembangkan di sekitar kawasan terminal bus maupun stasiun kereta api. Sedangkan konsep aerotropolis berfokus pada transportasi udara. Pergerakan pesawat adalah motor utama konsep aerotropolis. Walaupun tetap ada elemen transportasi multimoda di dalam konsep aerotropolis, namun itu hanya sebatas untuk mendukung integrasi bandara dengan kota saja.

Kalau menurut pendapat penulis sendiri sih, bisa dibilang konsep aerotropolis dan TOD saling melengkapi satu sama lain sebagai konsep perencanaan yang bertumpu pada perpindahan manusia. Bagaimana menurutmu?

 

Harun Din Haq

Mahasiswa asli Majalengka, sedang menempuh studi di Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota UGM

Add comment


Security code
Refresh

The Best betting exchange http://f.artbetting.net/
Full reviw on bet365 b.artbetting.net by artbetting.net
www.bigtheme.net