16299

Gerbang bagian belakang Kompleks Balaikota Semarang yang berada persis di sebelah barat Rusun

  

Pemukiman kumuh yang berlokasi tepat di punggung kompleks balaikota barangkali adalah ironi terburuk yang harus dihadapi sebuah ibukota provinsi. Inilah masalah pelik yang sempat dialami oleh pemerintah kota Semarang.

Tepat di belakang tembok kompleks balaikota Semarang, membentang Kali Semarang. Di seberang kali itulah terdapat slum area perkotaan di sebuah kawasan bernama Pekunden. Maka pada medio 2000-an, pemkot Semarang membuat rumah susun (rusun) Pekunden. Rusun ini dibangun untuk memberi space bagi penyediaan ruang terbuka hijau di tengah kampung padat penduduk di jantung kota Semarang tersebut.

Memulai pembangunan rusun ini bukan hal yang mudah. Warga yang berasal dari kalangan sosial ekonomi rendah sedemikian takut jika sampai harus terusir dari tempat tinggalnya selama ini karena proyek Pemkot. Mereka menaruh curiga, ide Pemkot hanya bahasa halus pengumuman penggusuran. Di sisi lain, warga yang sudah terbiasa tinggal di rumah tapak, meskipun dengan ukuran petak yang sangat sempit, merasa asing dengan ide tentang rumah susun. Mereka tidak bisa membayangkan bagaimana mereka harus tinggal disana. Wajar jika baru di tahap sosialisasi wacana ini saja, pihak Pemkot sudah perlu melakukan pendekatan yang berlapis demi melunakkan dan mengambil hati warga. Hasilnya, warga pun akhirnya bisa diyakinkan bahwa mereka tidak digusur dari tempat tinggalnya. Mereka juga akan terlibat berkontribusi selama proses pembangunan rusun Pekunden nantinya.

Pembangunan Lima Tahap

Dalam negosiasi Pemkot dengan warga Pekunden, pendekatan top-down ala birokrasi pemerintah seringkali harus dikompromikan dengan masukan dari warga yang bersifat bottom-up. Baik Pemkot maupun warga harus mau menurunkan egoisme masing-masing demi kesuksesan proyek rusun Pekunden ini.

Rusun Pekunden

Salah satu hal paling menarik dalam proses ini adalah kenyataan bahwa seluruh warga yang berjumlah 53 KK sama sekali tidak mau direlokasi selama proses pembangunan rusun berlangsung, meskipun relokasi hanya bersifat sementara. Warga cemas apabila mereka pergi dari tempat tinggal mereka, rusun yang sudah jadi akan ditempati oleh orang-orang asing (makelar) dan mereka justru kehilangan jatah. Sehingga dalam negosiasi dihasilkan keputusan: Rusun yang terdiri dari lima bangunan akan dibangun secara bertahap dan tidak sekaligus. Warga yang lahan lokasi rumahnya tengah dibangun bangunan rusun hanya berpindah mengungsi sementara di rumah tetangganya dan tidak meninggalkan kampung Pekunden. Pendekatan ini memang memakan waktu yang lebih lama daripada membangun seluruh bangunan rusun sekaligus. Namun cara ini bisa meminimalkan gejolak resistensi dan mempertahankan kohesi sosial masyarakat sebagai warga kampung.

Pemkot juga mampu menentramkan warga soal status kepemilikan unit rusun. Sebab dari total 93 unit rusun yang dibangun Pemkot, sebanyak 53 unit diantaranya diberikan sebagai unit hak milik kepada 53 KK pemilik lahan lokasi pembangunan rusun. Masing-masing KK memiliki surat hak milik atas satu unit rusun (SHMSRS) sebagai apresasi atas kerjasama warga dan pengganti hak atas rumah yang mereka miliki sebelumnya. Sedangkan sebanyak 40 unit sisanya tetap dimiliki Pemkot sebagai aset daerah dan dapat digunakan oleh siapapun warga yang berminat menempati, sebagai unit rusun sederhana sewa (rusunawa).

Budaya “Rumah Tapak” yang Tetap Bertahan di Rusun

Sisi lain Rusun Pekunden

Pemkot Semarang tidak berhenti sampai disitu saja. Untuk mengurangi kesan kumuh yang sering tampak di rusun warga kelas menengah ke bawah, Pemkot berupaya memutar otak. Antara lain, menghadirkan ruang terbuka hijau yang lengkap dengan tumbuhan hijau dan saran bermain anak-anak di sisi utara rusun Pekunden. Pemkot juga membuat lantai satu rusun sebagai zona komersil dan semi-public space sebagai tempat saling berinteraksi bagi warga rusun. Selain itu, Pemkot juga sengaja mendesain lorong-lorong rusun tidak menghadap ke luar (ke jalan), melainkan menghadap ke dalam rusun. Sehinga fasad rusun ini adalah tembok di semua sisi. Tujuannya untuk menghindari tampilan lorong yang kumuh karena “pemandangan” jemuran pakaian, tumpukkan sampah, atau barang-barang lain yang sengaja diletakkan warga di sepanjang lorong rusun.

Pendekatan Pemkot terbukti benar. Meskipun tampak luar (fasad) rusun terlihat rapi, tampak dalam area rusun jauh lebih meriah dan seperti tampilan kampung pada umumnya. Warga yang sudah bertahun-tahun tinggal di rumah tapak tidak bisa meninggalkan kebiasaan mereka seketika saat harus menempati rusun. Lorong rusun yang semestinya menjadi public space (jalan) lebih lazim digunakan para warga sebagai extension unit hunian mereka untuk “teras rumah”. Disitulah tempat mereka menaruh sampah rumah tangga atau barang-barang tidak terpakai. Sehingga kondisi lorong rusun persis seperti saat kita memasuki gang-gang pemukiman padat penduduk. Harus “serba permisi” kalau kita mau numpang lewat.

Ruang publik yang ada di Rusun Pekunden

Tidak semua warga juga bisa memisahkan konsep zona hunian dan zona komersil sebab kebiasaan itu tidak mereka kenal saat tinggal di kampung. Banyak warga (terutama ibu-ibu) yang terbiasa melakukan pekerjaan secara multitasking. Mengerjakan banyak pekerjaan sekaligus dalam satu waktu. Misalnya mengasuh anak bayi yang sedang tidur di kamar, mengawasi anaknya yang bermain di depan rumah, sambil menjaga kios dan ngerumpi dengan ibu-ibu lain yang datang ke kios. Sehingga lokasi hunian yang terpisah lantai dengan lokasi kios sangat tidak sesuai dengan kebutuhan warga seperti ibu-ibu ini. Alhasil banyak warga yang membuka kios kelontong, bahkan berjualan gorengan, di lantai-lantai atas rusun dengan segala kreativitasnya.

Ternyata walaupun pihak kontraktor dan Pemkot Semarang sudah cukup berusaha melibatkan warga dalam proses merencanakan dan membangun rusun, tetap ada faktor budaya komunal warga yang belum bisa sepenuhnya diakomodasi. Meski demikian, seperti biasa, warga kampung selalu mampu berdamai dengan keadaan. Mereka tetap berusaha beradaptasi dan menyamankan diri dengan situasi baru di rusun dengan cara membawa budaya mereka ke dalam kehidupan rusun.

 

Ageng “Ale” Yudhapratama
Penulis merupakan anggota Komunitas Pemuda Tata Ruang

Add comment


Security code
Refresh

The Best betting exchange http://f.artbetting.net/
Full reviw on bet365 b.artbetting.net by artbetting.net
www.bigtheme.net