Adalah keniscayaan pertumbuhaan kendaraan pribadi jika memilikinya hanya untuk menunjukkan status sosial ataupun gaya hidup.

Menurut WHO, tahun 2013 jumlah kendaraan (semua jenis, ya) yang  terdaftar di dunia sejumlah 1,7 milyar1. Hampir seperempat penduduk dunia saat itu. Oleh Research House Bernstein, diproyeksikan jumlah kendaraan berupa mobil di jalan-jalan kota dan daerah dunia akan berjumlah 1,5 milyar tahun 2025 dan 2 milyar tahun 20402. Indonesia apa kabar? Indonesia nih ya, menurut data BPS yang bersumber dari Kapolantas Polri, jumlah kendaraan yang terdaftar sebanyak 129 juta dengan rata-rata pertumbuhan mobil 2009-2016 hampir mencapai satu juta unit3. Hasil survei The Nielsen Global Survey of Automative Demand tahun 2013 menyatakan bahwa 81% atau sekitar 4-5 orang Indonesia tetap memiliki keinginan membeli mobil dalam dua tahun mendatang sedangkan rata-rata Global 65% dan Thailand 70%4. Yang akan datang pasti akan bertambah seiring dengan profitnya menjadi driver start-up transportasi daring. Kebayang gak sih dampaknya? macet dan polusi saat ini aja bikin orang harus menaikkan ambang batas kesabarannya.

 

Seandainya skenario dalam film inferno tentang menyelamatkan bumi dengan membumi hanguskan kendaraan pribadi di dunia dan Profesor Langdon gagal membaca anagram peta dante, pasti kita akan sedikit tau bagaimana kehidupan kota tanpa kendaraan pribadi. Sebenarnya kurang lebih berkaitan antara pertumbuhan penduduk dengan pertumbuhan kendaraan pribadi jika motifnya bukan kebutuhan. Kurvanya saling bertambah.

Oke. Artikel kali ini akan memberikan secuil gambaran kondisi kota apabila tidak ada kendaraan pribadi, hanya kendaraan umum, dalam prespektif tiga elemen ruang kota oleh Patrick Geddes yang terinspirasi dari Sosiolog Prancis, yaitu Folk, Place, dan Work.

1. Folk (Man)

Elemen pertama yang akan dibahas yaitu elemen folk atau man atau manusia. Nihilnya kendaraan pribadi dalam lalu lalang di perkotaan membuat manusia awet muda. Nah loh kok bisa? Karena kualitas udaranya teman-teman. Udara yang kita hirup mempengaruhi kesehatan penghirup. Menurut Deputi II Kementerian Lingkungan Hidup, M.R. Karliansyah, sektor transportasi mempunyai kontribusi terbesar dalam pencemaran udara di kota-kota besar di Indonesia5. Pencemaran apa sih? Jadi teman-teman, kendaraan bermotor itu mengeluarkan emisi karbon monoksida yang membuat kerja hemoglobin dalam tubuh kita bekerja 200-300 kali lipat. Selain itu, juga menghasilkan karbon dioksida sebesar 85-115 gram per km untuk motor4. Di Jakarta, jumlah partikel debu tahun 2012 mencapai 150 mikrogram per meter kubik sedangkan ambang batas sebesar 60 mg/m3 menurut PP No.41 Tahun 1999 dan 20 mg/m3 menurut WHO6. Secara matematis demikian, secara praktis gimana? Coba kalian pergi ke pantai atau suatu daerah yang minim kendaraan, rasakan perbedaannya. Seger bukan? Kalau mau lebih  lagi, coba ke Pulau Gili Iyang di Pulau Madura, Pulau Awet Muda sebut Pemerintah Sumenep. Pasalnya, pulau tersebut memiliki kadar oksigen terbesar di dunia setelah Laut Mati di Yordania, 21,5% berdasarkan penelitian Balai Besar Teknis Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Jawa Timur. Menurut penuturan penduduk setempat, dulu ada seorang nenek yang berumur sampai 175 tahun, beliau bernama Sara’i.

Tidak adanya kendaraan pribadi menjadikan manusia lebih peka terhadap lingkungan sekitar. Kendaraan pribadi menjadikan manusia berjarak keintimannya dengan lingkungan. Fokus pandangan kedepan mengaburkan pandangan kiri-kanan. Laju kendaraan melupakan keadaan sekeliling. Rendahnya kepekaan terhadap sekitar memberikan kesan penduduk kota egois dan individualis. Banyak orang-orang berkata bahwa “jangan banyak bicara aja, coba ke lapangan, rasakan apa yang mereka rasakan, dengarkan apa yang mereka keluhkan”. Oke, mari ambil contoh berjalan kaki. Menurut Prabha Siddarth, peneliti dari Univeristy of California, berjalan kaki dapat meningkatkan perhatian, kepekaan dalam menampung suatu informasi, serta berguna untuk meningkatkan kemampuan kognitif lainnya7. Tapi kan tidak mungkin berjalan kaki dalam perjalanan jauh? Kan ada transportasi umum. Ingat, awal dan akhir sebuah perjalanan kita untuk saat ini mayoritas masih berupa berjalan kaki.

2. Place (Space)

Elemen kedua yang akan dibahas yaitu elemen place atau space atau ruang. Dalam riset Alphabeta, di beberapa Kota di Indonesia yang bertajuk Meninjau Kembali Mobilitas Urban di Indonesia: Peran Layanan Mobilitas Bersama, dikatakan bahwa dengan berkurangnya penggunaan kendaraan pribadi dan beralih ke transportasi bersama, maka emisi gas CO2 dari kendaraan akan berkurang 159.000 mega ton. Atau sama dengan menyelamatkan 415.000 hektar8. Konteks tersebut dalam hal kesehatan dan lingkungan hidup. Namun, apabila dicermati, tidak adanya kendaraan pribadi juga berdampak pada tidak adanya lahan parkir, tempat cuci kendaraan bermotor, bengkel kendaraan bermotor, dan minimnya SPBU, dealer kendaraan, serta minim lebar jalan yang diperuntukkan untuk kendaraan pribadi.

Perusahaan riset singapura tersebut dalam risetnya yang memilih lokus jakarta, bandung, surabaya, dan bali,  mengatakan bahwa 0% penggunaan mobil dan motor di jalanan dapat mengurangi 46 ribu hektar lahan parkir8. Ribuan hektar tersebut dapat dialihkan menjadi lahan produktif dan dapat menyejahterakan masyarakat. Itu baru lahan yang direncanakan untuk parkir, belum lagi parkir informal atau on street yang mempengaruhi laju pergerakan kendaraan.

Dari segi SPBU, menurut Kepala Badan Pengatur Kegiatan Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), Andy Noorsaman Someng, di Indonesia saat ini, 18 SPBU dipakai untuk melayani kebutuhan BBM 1 juta penduduk sedangkan idealnya 61 SPBU9. Angka tersebut berarti 1 SPBU untuk sekitar 55.555 penduduk untuk saat ini dan idealnya 1 SPBU untuk 16.393 penduduk. Bila kita konversi dalam ruang terbuka hijau (RTH) berdasarkan jumlah penduduk, 2 SPBU ideal sama dengan 1 taman tingkat kelurahan yang memiliki luas 0,9 hektar. Mari ambil kasus di Kota Jogja untuk saat ini. Pom bensin yang berada dalam administrasi Kota Jogja berjumlah 14 apabila kita hitung melalui search engine Google dengan kata kunci pom bensin di Kota Jogja. Angka tersebut terlepas dari swasta atau negeri. Apabila 14 SPBU dikonversi menjadi RTH, berarti Kota Jogja memiliki potensi RTH seluas 6,3 hektar atau sekitar 0.002% luas Kota Jogja

3. Work (Activity)

“Sampai kapan kalian memaklumi keadaan (kemacetan) tersebut? Sampai di titik mana kemacetan ini akan membuat kapok semua pihak?” – Tanya Bambang Susantono. Kebiasaan orang dalam melewati kemacetan memiliki masa kadaluwarsanya. Untuk menghindari macet, orang-orang melakukannya dengan mengawali jam pergi dan mengakhiri jam pulang. Pola mobilitas semakin bervariasi dan tak menentu. Laju mobilitas menurun seperti di jakarta, 25 km/jam saat normal menjadi 14 km/jam saat macet10.

Elemen ketiga yang akan dibahas yaitu elemen work atau activity atau aktivitas. Ketiadaan kendaraan bermotor di ruang-ruang jalan perkotaan membuat rencana aktivitas cenderung sesuai dan banyak aktivitas terlaksana serta bergerak positif. Hal tersebut mempengaruhi produktivitas. Esther Widhi, Psikolog Binus, mengatakan bahwa macet akan menurunkan produktivitas kerja karena pagi-pagi sudah stres akibat terjebat macet11. Pun, kebiasan prokrastinasi akan berkurang.

Setiap insan pasti akan melakukan pergerakan (aktivitas) sebagai wujud usaha untuk bertahan hidup bak filosofi ikan hiu dan ikan salmon. Mayoritas masyarakat melakukan aktivitas dengan motif ekonomi. Tersendatnya aktivitas masyarakat berpengaruh terhadap perekonomian. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) DKI Jakarta, kemacetan membuat ongkos transportasi membengkak 2,9% dan PDRB DKI Jakarta menurun 0,16%10.

Apa bisa Kota tanpa Kendaraan Pribadi? Jawabannya Bisa!. Sudah  mulai bermunculan kota-kota atau negara yang menggerakkan tanpa kendaraan bermotor, hanya menggunakan kendaraan umum. Seperti Negara Korea Selatan saat ini yang sedang membangun kota tanpa mobil pribadi di Songdo yang menelan anggaran sebesar 476 triliun12.

 

We shape our buildings, and afterward they shape us” –Winston Curchill

Referensi:

  1. http://www.who.int/gho/road_safety/registered_vehicles/number/en/
  2. https://www.weforum.org/agenda/2016/04/the-number-of-cars-worldwide-is-set-to-double-by-2040
  3. https://www.bps.go.id/linkTableDinamis/view/id/1133
  4. Buku Revolusi Transportasi oleh Bambang Susantono
  5. https://oto.detik.com/motor/1850741/kendaraan-penyumbang-polusi-terbesar-di-indonesia
  6. http://www.greeners.co/berita/kendaraan-bermotor-penyumbang-polusi-udara-terbesar-di-jakarta/
  7. https://kumparan.com/@kumparanstyle/berjalan-4-000-langkah-setiap-hari-mampu-menjaga-kesehatan-otak
  8. https://inet.detik.com/cyberlife/d-3516936/riset-transportasi-bersama-bisa-menghemat-rp-138-triliun
  9. https://economy.okezone.com/read/2015/09/01/19/1206519/idealnya-61-spbu-per-1-juta-penduduk
  10. https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/3243447/ini-dampak-kemacetan-terhadap-perekonomian-jakarta
  11. https://news.detik.com/berita/d-1409154/produktivitas-kerja-merosot-karena-pagi-pagi-stres-akibat-macet
  12. https://economy.okezone.com/read/2017/12/13/470/1829546/korsel-bangun-kota-tanpa-mobil-pribadi-senilai-rp476-triliun 

 

Arbi Ali Farmadi
Penulis adalah anggota Komunitas Pemuda Tata Ruang

Add comment


Security code
Refresh

The Best betting exchange http://f.artbetting.net/
Full reviw on bet365 b.artbetting.net by artbetting.net
www.bigtheme.net