Hotel Amaris yang mendapatkan status “Warisan Budaya”

 Bermula dari cuitan seorang Elanto Wijoyono di Twitter (@joeyakarta), saya jadi tahu kalau sekarang sebuah hotel anyar yang kondisinya masih sangat gress bisa mendapat status “warisan budaya daerah”.

Lebih hebat lagi karena status ini bukan klaim sepihak dari manajemen hotel. Ini merupakan pengakuan resmi dari pemerintah daerah berdasarkan Keputusan Walikota (Kepwal) Yogyakarta nomor 337 tahun 2017. Kepwal ini merupakan rilis yang berisi daftar warisan budaya daerah yang ada di Kota Yogyakarta.

Hotel yang sedang saya singgung adalah Hotel Amaris Malioboro yang beralamat di Kampung Pajeksan. Sejak proses pembangunan, hotel ini sudah menuai kecaman keras dari pemerhati budaya dan ahli sejarah. Sebab proyek hotel ini mengorbankan sebuah bangunan yang dulu pernah menjadi rumah Tjan Biang Thiong. Bangunan tersebut telah mendapat SK sebagai cagar budaya dengan keunikan langgam arsitektur khas Cina. Masyarakat pun ramai menggugat keabsahan dokumen IMB hotel ini. Apalagi Pemkot Yogyakarta sempat memberlakukan moratorium pembangunan hotel baru selama tiga tahun penuh terhitung sejak 2014-2016. Naas, upaya masyarakat tak berbuah hasil positif. Rumah bersejarah itu pun tetap harus rata dengan tanah demi memperlancar proses pembangunan sang hotel baru.

Hotel Amaris yang sudah berdiri “gagah”

Kemudian dalam waktu sekejap mata saja, Hotel Amaris sudah berdiri dengan gagah. Dengan vulgar, perobohan eks rumah Tjan Bian Thiong sekadar “dikompensasikan” dengan bentuk bangunan lobi hotel yang coba dimirip-miripkan dengan arsitektur Cina. Tentu saja upaya ini tidak lantas membuat bangunan lobi hotel tersebut dapat menjadi bangunan bersejarah. Namun bagian paling lucunya, tentu saja karena bangunan lobi hotel yang baru berdiri tahun 2016 ini turut dicatat Pemkot Yogyakarta sebagai “warisan budaya daerah” dalam Kepwal yang diterbitkan setahun kemudian. Ironis.

Padahal Malioboro sendiri sudah ditetapkan menjadi salah satu dari lima Kawasan Cagar Budaya (KCB) di Kota Yogyakarta dengan identitas sebagai area perdagangan dengan corak bangunan bergaya Indische-Jawa-Cina. Sedangkan Kampung Pajeksan adalah area pemukiman yang ikut membangun narasi identitas kawasan Malioboro. Bersama Kampung Ketandan, Kampung Pajeksan terkenal sebagai kampung yang banyak didiami oleh masyarakat Tionghoa sejak masa-masa awal berkembangnya Malioboro sebagai area perdagangan di Yogyakarta. Maka sudah jelas kenekatan membongkar bangunan cagar budaya tersebut melabrak aturan tata ruang yang berlaku di kawasan setempat.

Foto lama rumah pajeksan Tjan Bian Thiong

Kini dengan penetapan Hotel Amaris sebagai warisan budaya daerah, saya jadi bertanya-tanya. Apakah kelak merobohkan cagar budaya secara terang-terangan akan menjadi sebuah “budaya” baru bagi Yogyakarta? Sebab kalau tindakan untuk membongkar bangunan bersejarah semata-mata demi alasan ekonomi saja sudah saya anggap sebagai wujud keangkuhan pemodal, apalagi jika sampai pihak hotel bisa memperoleh status “warisan budaya” atas tindakan ngawurnya tersebut. Hal itu saya anggap sebagai sebentuk kekurangajaran terhadap keistimewaan Yogyakarta.

.

Petisi yang disampaikan oleh Elanto Wijoyono

Mungkinkah di masa mendatang hotel-hotel baru lainnya di Yogyakarta juga akan berlomba-lomba untuk mendapatkan status sebagai warisan budaya daerah? Sehingga untuk menikmati keagungan warisan budaya Yogyakarta kelak kita tak perlu lagi menjelajah situs-situs bersejarah atau menyusuri kampung-kampung tradisional. Cukup pilih hotel yang menarik hati untuk diinapi dan kita sudah bisa menikmati suguhan “warisan budaya” sembari sarapan pagi di resto hotel. Tak lupa, di hotel warisan budaya tersebut, kita tetap bisa foto-foto asyik untuk kemudian diunggah ke Instagram.

Siapa yang tahu?

 

Ageng ‘Ale’ Yudhapratama

Penulis merupakan anggota Komunitas Pemuda Tata Ruang

Add comment


Security code
Refresh

The Best betting exchange http://f.artbetting.net/
Full reviw on bet365 b.artbetting.net by artbetting.net
www.bigtheme.net