Kota Albany di New York sebagai salah satu percontohan kota inklusif secara ekonomi menurut Brookings Metro Monitor (2017)

Sumber: http://res.cloudinary.com

Akhir-akhir ini kota inklusif sering menjadi hot topic di berbagai percakapan yang bukan hanya  di kalangan mahasiswa perencana bahkan juga di kalangan elemen-elemen yang secara langsung maupun tidak langsung bersinggungan dengan keberadaan sebuah kota. Kota inklusif bahkan sering hadir dan mungkin menjadi suatu poin penting yang tidak pernah absen di dalam kajian-kajian yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak pernah puas akan kerja keras sebuah kota dan perangkatnya dalam memenuhi kebutuhan masyarakat yang tinggal didalamnya.

Sebelum lebih jauh mendalami mengenai betapa pentingnya sebuah kota yang inklusif sudah sewajarnya untuk mengetahui apa sebenarnya yang dimaksud dengan sebuah kota inklusif. Inklusifitas kota merupakan sebuah proses  untuk berusaha menghilangkan penghalang baik sebagian maupun secara keseluruhan akses terhadap sistem ekonomi, sosial dan budaya yang ada di dalam sebuah kota.  Menurut nexcity.org dalam tulisannya kota yang inklusif merupakan kota yang secara politik memberikan penghargaan kepada warganya dengan setara, yang termarginal didengarkan suaranya serta diberikan kesempatan terlibat dalam proses perencanaan dan penganggaran dalam sebuah kota serta memiliki akses yang baik terhadap layanan dasar kehidupan.

Menurut World Bank ada 3 hal yang mendukung terbentuknya sebuah kota yang inklusif; yang pertama adalah Spatial Inclusion yang mencakup ketersediaan infrastruktur dan sarana prasarana yang menunjang kegiatan masyarakat sehari-hari. Yang kedua merupakan Social Inclusion yang berisi tentang kesetaraan hak dan partisipasi semua warga terutama yang termarjinal karena warga yang termarjinal identik dengan kemiskinan yang menciptakan ketimpangan sosial dan kerusuhan dalam sebuah kota. Yang ketiga merupakan Economic Inclusion. yakni kemampuan kota untuk menciptakan lapangan pekerjaan dan kesempatan kepada semua warga kota untuk menikmati pertumbuhan ekonomi.

Ruang terbuka publik sebagai salah satu sarana untuk menciptakan inklusifitas di kota

Sumber: Giles Ashford (https://www.brownstoner.com/)

Selain memiliki sisi yang inklusif, sebuah kota juga memiliki ke-eksklusifan yang merupakan proses terhalangnya (baik secara sebagian maupun sepenuhnya) warga kota untuk mendapatkan akses terhadap sistem sosial, budaya serta ekonomi yang merupakan kunci dalam integrasi dalam kehidupan masyarakat. Burchardt, Le Grand, & Piachaud (1999, p. 227) menegaskan bahwa tidak ada warga yang mengeksklusikan dirinya, karena keadaan tereksklusi merupakan keadaan warga yang tinggal di suatu tempat atau menjadi bagian sebah komunitas namun terhalang oleh berbagai faktor keadaaan yang diluar kemampuannya.

Kota yang inklusif merupakan kota yang menjadi dambaan banyak orang, dan masih menjadi tugas utama banyak pihak termasuk kita para mahasiswa untuk mencari bagaimana cara mewujudkan sebuah kota inklusif yang ideal untuk diterapkan diberbagai negara terutama di tanah air Indonesia. Karena kota merupakan tempat yang berisi banyak kompleks termasuk ambisi serta mimpi juga harapan orang-orang. Mau dibawa kemana perkembangan sebuah kota ditentukan oleh orang yang ada didalamnya. Akankah menjadi istana nan megah buat orang-orang berkuasa, atau hanya menjadi mimpi di siang bolong bagi orang-orang yang tinggal di bawah langit gelap atap perumahan kumuh yang mendambakan langit biru serta keadilan untuk mendapatkan hak-haknya menjadi warga dalam sebuah kota.

 

Elisa Martina

Mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota UGM

 

Add comment


Security code
Refresh

The Best betting exchange http://f.artbetting.net/
Full reviw on bet365 b.artbetting.net by artbetting.net
www.bigtheme.net