Ilustrasi: Penulis dan Maudy Ayunda sedang Menunggu Angkutan Umum yang Tak Kunjung Datang Sambil Membaca Buku Bunga Rampai Tebak-Tebakan Lucu Pilihan 2017

Namanya Jan dan dia berasal dari Jerman. Saya berjumpa dengannya di pinggir Jalan Palagan Tentara Pelajar. Ya di pinggir jalan, di bawah pohon perindang. Kalau Pembaca mengira saya berjumpa dengannya hanya sekali, biar saya beritahu bahwa itu adalah sebuah kesalahan. Saya berjumpa dengannya dua kali, dalam dua hari berturut-turut, dan di bawah pohon yang sama. Perjumpaan pertama kami cukup unik. Kala itu, saya yang sedang naik motor secara mlipir dengan kecepatan lambat dikejutkan oleh unjukkan jempol dari seseorang yang berada di pinggir jalan, yang saya pahami sebagai gestur ‘tolong-tebengin-saya’. Ya, dialah Jan, sosok bule Jerman, yang menurut pengakuannya ketika itu  ingin naik angkot ke terminal Trans Jogja terdekat di perempatan Monjali, sekitar tiga kilometer dari tempatnya menunggu. Jan mengungkapkan pula bahwa ketika itu dia sudah menunggu lama sekali, sekitar dua jam, dan dia yang datang ke Jogja untuk berlibur hampir saja kehilangan satu hari yang berharga untuk menikmati liburannya.

 Itu pertemuan pertama. Pada saat itu, ketika saya telah mengantarkan Jan pada tujuannya, saya memberikan kontak Whatsapp saya kepadanya. Saya bilang kepadanya, barangkali dia tertarik untuk nebeng lagi, setelah dia bilang bahwa dia ingin pergi ke Stasiun Lempuyangan keesokan harinya. Hingga pagi berikutnya, tidak ada kontak darinya, jadi saya – yang bukan cowok posesif, beranggapan bahwa dia sudah mendapatkan tebengan lain. Atau sudah menyewa motor di rental. Atau mungkin, dengan amat sangat beruntung mendapatkan angkot Jalur 23, yang memang beroperasi di sepanjang jalan itu, namun muncul hanya seperti komet Halley. Amat jarang, maksud saya. Maka jadilah, pada hari kedua tersebut, saya pergi ke kota tanpa niatan untuk nebengin orang. Namun, alangkah terkejutnya saya ketika saya melihat lagi Jan, di bawah pohon di pinggir jalan yang sama, dengan muka terbakar matahari yang berwarna seperti kepiting rebus, tengah menunggu angkot! Rupanya dia belum mendapatkan tebengan, namun bangun kesiangan, sehingga merasa tidak enak untuk mengontak saya, yang dia pikir akan berangkat pagi.

Hahaha, kalau saja dia kenal saya, pasti dia tahu bahwa saya kesulitan bangun pagi, sehingga amat jarang benar-benar berangkat pagi.

Malang sekali nasib Jan, menunggui sesuatu yang bagaikan kehadiran saya di hati Maudy Ayunda, alias hampir-hampir tidak ada sama sekali! Maka, saya simpulkan kemudian bahwa cuma ada tiga tipe orang yang bisa kita temui di angkot Jalur 23: orang yang tidak tahu, orang yang terpaksa, atau orang yang naif.

Sejak insiden Jan, saya – yang hampir setiap hari menghabiskan waktu sekitar satu jam untuk otewe di jalan, menjadi lebih sering memperhatikan orang-orang di pinggir jalan. Saya bertanya-tanya, benarkah masih ada yang menunggu angkot di Yogyakarta kita tercinta ini? Rupanya, masih ada, hanya beberapa namun hampir selalu ada. Kebanyakan adalah wanita, berusia setengah baya ke atas dengan tujuan yang saya tebak: hendak pergi ke atau pulang dari pasar, dilihat dari jinjingannya. Yang tidak saya pahami adalah alasan mengapa mereka masih menunggu angkot, selagi saya bersimpati pada mereka, yang harus menyiapkan diri untuk kehilangan satu-dua jam dalam hidupnya hanya untuk menunggu angkot.

Selayang Pandang Transportasi Umum di Kabupaten Sleman

Angkot, singkatan dari angkutan kota –yang di Sleman sebenarnya lebih cocok disebut sebagai angkudes, angkutan pedesaan; adalah salah satu moda transportasi umum yang beroperasi di wilayah Kabupaten Sleman. Di Sleman, angkot biasa dijuluki sebagai kol –barangkali merujuk pada Colt, varian merek keluaran Mitsubishi. Terkadang, untuk membandingkannya dengan moda transportasi umum lainnya, banyak pula yang iseng menjulukinya sebagai kol tuyul, menggambarkan ukurannya yang relatif lebih kecil dan kegesitannya dalam mengarungi jalanan. Bersama moda transportasi lain seperti bus –yang juga beragam ukuran dan jenisnya; angkot pernah berjaya sebagai tumpuan harapan transportasi warga seantero Sleman, paling tidak hingga sekitar medio 2000-an.

Di masa lalu, terdapat beberapa trayek angkot yang terkenal karena kesibukannya, antara lain Jalur 23 yang melayani rute Pakem – Pasar Kranggan, Jalur 30 yang melayani rute Pakem – Tempel, dan Jalur D-6 yang melintasi Sleman dari Godean di sebelah barat hingga Minomartani di sebelah timur. Selain angkot, terdapat pula beberapa trayek bus yang sama terkenal karena kesibukannya, antara lain bus Jogja – Tempel yang beroperasi terutama di Jalan Magelang, bus Jogja – Pakem yang beroperasi terutama di Jalan Kaliurang, serta bus Godean – Condongcatur yang lebih dikenal sebagai bus R.A.S. karena stiker yang tertempel di kaca belakangnya.

Ilustrasi Angkot di Sleman

Sumber : http://jogja.tribunnews.com/)

Di masa kejayaannya, angkot dan bus selalu dipenuhi penumpang ketika jam-jam sibuk, yakni  di pagi hari, antara pukul 6 hingga 7, dan di siang hari, antara pukul 1 hingga pukul 3. Pengguna utama angkot dan bus adalah pelajar dan orang-orang yang “berurusan” dengan pasar. Berdasarkan pengalaman pribadi, di luar golongan pelajar, golongan wanita dan lansia lebih dominan. Angkot dan bus diminati pelajar karena pelajar berseragam dan anak-anak hanya membayar separuh dari harga orang dewasa. Potongan harga ini menyebabkan keduanya menjadi moda transportasi yang terbilang ekonomis. Sebagai contoh, ketika SMP sekitar tahun 2008 – 2009, menggunakan angkot Jalur 23, saya dapat pulang ke rumah saya di Jalan Palagan Tentara Pelajar km 13 dari sekolah saya di dekat Pasar Pakem hanya dengan membayar 1500 rupiah. Artinya, pergi dan pulang ke sekolah saya cukup menyiapkan 3000 rupiah dalam sehari. Jumlah yang setara sebotol minuman ringan ketika itu, terbilang murah bahkan untuk pelajar dengan uang saku pas-pasan sekalipun. Untuk orang-orang yang punya “urusan” dengan pasar, angkot dan bus juga jadi primadona. Pasalnya, sopir angkot dan bus jarang sekali meminta ongkos tambahan untuk barang bawaan yang banyak. Sepengetahuan saya, selama barang bawaan bisa dimasukkan ke dalam dan tidak harus diletakkan di bagian atas angkot, tidak ada biaya tambahan. Itulah mengapa semasa saya masih sering naik angkot, seringkali ada orang yang dengan santainya memasukkan bawaan hingga dua karung ke dalam angkot! Ya memang, resikonya dirasani penumpang lain. Namun, bagi kebanyakan pelajar laki-laki, hal tersebut menyenangkan karena jika bagian dalam angkot penuh, mereka bisa memiliki alasan untuk bergelantungan di pintu angkot dengan keyakinan bahwa ketampanan dan kejantanan mereka akan meningkat, terutama apabila angkot melaju kencang dan membuat rambut poni mereka berkibar-kibar.

Dengan berbagai kemudahan dan kemurahhatian yang diberikan kepada penumpangnya, mengapa kemudian angkot dan bus di Sleman mati perlahan-lahan? Saya, yang menjadi pengguna aktif angkot dan bus di tahun-tahun terakhir kejayaannya, beranggapan bahwa terdapat beberapa alasan yang menyebabkan pengguna angkot dan bus menghilang perlahan-lahan, yang dapat ditinjau dari sisi trayek dan desain kendaraan, sopir, serta penumpang. Mari kita ulas bersama-sama!

Permasalahan #1: Trayek dan Desain Kendaraan

Dari segi trayek, beberapa trayek angkot dan bus kota memiliki jarak yang terlalu jauh, seperti trayek Kranggan – Pakem milik angkot Jalur 23 atau trayek Godean – Minomartani milik Jalur D-6. Memang, sebenarnya tidak masalah apabila terdapat trayek yang jauh, asalkan terdapat trayek alternatif di sepanjang rute tersebut untuk melayani penumpang jarak dekat. Kenyataannya, terdapat banyak wilayah di Kabupaten Sleman yang hanya dilalui oleh angkutan-angkutan jarak jauh tersebut, sehingga penumpang dari wilayah tersebut harus menunggu angkutan yang datangnya lebih lama karena harus menempuh jarak yang lebih jauh. Hal ini diperparah lagi dengan ukuran kendaraan yang tidak sesuai dengan jarak trayek. Trayek Kranggan – Pakem, sebagaimana yang telah dijelaskan memiliki jarak yang relatif jauh, dilayani hanya dengan angkot yang ukurannya kecil. Hal ini menyebabkan calon penumpang yang sudah menunggu lama seringkali masih mendapatkan penolakan dari angkot yang lewat dengan alasan angkot sudah penuh. Atau, mengambil kemungkinan terbaik setelah berdebat dengan sang sopir, terpaksa berjubelan di angkot, yang sudah digelantungi bocah-bocah hypebeast jaman lampau. Hal-hal tersebut di atas menyebabkan masyarakat tidak mau lagi menggunakan angkot dan bus sebagai moda transportasi massal yang ada di Kabupaten Sleman.

Bersambung...

 

Muhammad Irsyad Adireja

Anggota Komunitas Pemuda Tata Ruang, sedang mengarsipkan kumpulan tebak-tebakan otentik di Twitter

 

 

Add comment


Security code
Refresh

The Best betting exchange http://f.artbetting.net/
Full reviw on bet365 b.artbetting.net by artbetting.net
www.bigtheme.net