Angkudes Sleman di Terminal Prambanan (2015)

sumber : (http://harianjogja.bisnis.com/)

 

Dengan berbagai kemudahan dan kemurahhatian yang diberikan kepada penumpangnya, mengapa kemudian angkot dan bus di Sleman mati perlahan-lahan?

Setelah mengkaji permasalahan pertama mengenai desain trayek dan desain kendaraan,  mari kita tinjau alasan mengapa pengguna angkot dan bus menghilang perlahan-lahan dari sisi sopir serta penumpang.

Permasalahan #2: Sopir

Berdasarkan pengetahuan saya, para sopir dari angkot–angkot yang beroperasi di wilayah Kabupaten Sleman mendapatkan upah dengan mekanisme setoran. Kebanyakan angkot yang dikendarai oleh sopir-sopir tersebut bukanlah milik sendiri, sehingga mereka harus berbagai penghasilan dengan si empunya angkot.  Hal ini diperparah lagi dengan adanya pungutan, baik legal maupun ilegal, yang harus dibayarkan oleh sopir di sepanjang trayek yang ia lewati sehari-harinya. Kondisi ini memaksa para sopir untuk cenderung memaksimalkan jumlah penumpang, sehingga sering terlihat angkot membawa penumpang melebihi kapasitas idealnya, terutama ketika jam-jam sibuk, sebagaimana yang telah dipaparkan sebelumnya. Ketika jam-jam sepi, permasalahan yang muncul adalah kecenderungan angkot untuk berhenti di suatu tempat untuk menunggu penumpang hingga penuh, alias ngetem. Di waktu-waktu ini, angkot bisa ngetem hingga 15 menit hingga setengah jam, sehingga kerap membuat penumpang yang terburu-buru atau telah menunggu lama merasa kesal. Hal yang lebih membuat kesal penumpang adalah cepatnya angkot dan bus kota ini menghilang di sore hari. Menjelang pukul lima sore, angkot dan bus berangsur-angsur menarik diri dari jalanan. Penyebabnya adalah berkurangnya penumpang secara drastis setelah waktu tersebut, sehingga beroperasi setelah waktu tersebut justru malah akan merugikan, selain juga karena memang tidak ada tuntutan atas para sopir untuk beroperasi di malam hari. Hal-hal tersebut juga menjadi alasan mengapa orang-orang meninggalkan angkot, yang gagal dalam memberikan keamanan, kenyamanan, dan reliabilitas bagi penumpangnya.

Semakin  jarangnya orang yang menggunakan angkot dan bus membuat upah yang didapatkan oleh para sopir dari mekanisme setoran juga semakin berkurang. Kondisi ini menyebabkan tingkat kesejahteraan sopir menurun dan membuat mereka berhenti menjadi sopir angkot atau bus. Hal ini ditandai dengan semakin berkurangnya angkot dan bus yang beroperasi di seantero Kabupaten Sleman. Memang masih dapat ditemui beberapa angkot dan bus yang beroperasi, namun dalam keadaan yang sudah seperti hidup segan mati tak mau. Persis seperti keadaan hati saya ketika nanti melihat Maudy Ayunda menikah tetapi bukan dengan saya. Dua tahun yang lalu, ketika naik angkot Jalur 23, saya mengongkosi sopirnya dengan akad carter. Artinya, saya menyewa angkot beserta sopirnya persis seperti ketika kita menyewa taksi, yang dapat kita sewa untuk mencapai tujuan tertentu yang kita inginkan. Hal ini berarti sopir harus bersedia untuk keluar dari trayek operasionalnya, sesuatu yang sebenarnya ilegal untuk kendaraan umum berpelat kuning. Namun, ketika itu sang sopir bercerita bahwa dia lebih suka ketika penumpang menyewanya dengan akad carter, daripada harus berputar-putar seharian untuk mencari penumpang yang sudah amat sangat langka. Lebih menguntungkan, katanya sembari menginjak tuas kopling yang sudah dalam sekali karena tidak pernah dirawat lagi.

Permasalahan #3: Penumpang

Adanya permasalahan-permasalahan yang telah dipaparkan sebelumnya menjadi alasan bagi masyarakat untuk tidak lagi menggantungkan diri kepada moda transportasi umum apapun di Kabupaten Sleman. Keadaan mungkin tidak akan separah sekarang apabila masyarakat tidak memiliki banyak pilihan selain menggunakan moda transportasi umum. Pada saat ini, dengan semakin mudah didapatkannya kendaraan pribadi seperti motor, terutama motor matic idaman para mahmud abas alias mamah muda anak baru satu, tentu saja masyarakat semakin mudah berpaling. Dengan uang muka yang amat rendah dan persyaratan yang tidak terlalu berat, seseorang sudah bisa menggondol satu unit motor untuk dipakai ngeng-ngeng kemana saja. Sedangkan bagi masyarakat yang tidak bisa mengendarai motor atau mobil, serbuan ojek dan taksi daring ke wilayah Kabupaten Sleman menjadi berkah tersendiri karena dengan ongkos yang relatif murah dan pasti –lebih tepat bila dikatakan sebagai ongkos yang adil; ojek dan taksi daring sudah bisa membawa penumpangnya ke segala penjuru secara mudah, cepat, nyaman, dan relatif aman. Suatu pengalaman perjalanan yang amat sulit didapatkan dengan menggunakan angkot atau bus dalam keadaannya yang seburuk saat ini.

Kemacetan di simpang tiga ringroad utara

sumber : (http://jogja.tribunnews.com/)

Perlukah Kita Berbenah?

Dengan mengidentifikasi keadaan transportasi umum Kabupaten Sleman termutakhir sebagaimana yang dijelaskan di atas, muncul pertanyaan. Perlukah kita berbenah? Beberapa dari kita mungkin merasa bahwa perubahan tidaklah perlu karena telah berpuas diri dengan layanan ojek dan taksi daring. Akan tetapi, saya, berdasarkan pengalaman-pengalaman pribadi saya, merasa bahwa sudah saatnya sistem transportasi umum di Kabupaten Sleman dibenahi. Saya mengajak para pembaca semua melihat lagi wajah jalanan Kabupaten Sleman. Jalanan yang selalu padat disesaki kendaraan pribadi, yang diperparah dengan profil jalan yang relatif sempit. Itu pun masih diperparah lagi dengan berbagai macam kendaraan yang diparkir serampangan di bahu kanan dan kiri jalan. Saya bukannya berpikir chauvinistic, tetapi saya merasa bahwa sesungguhnya padatnya jalanan di Yogyakarta, khususnya di wilayah Sleman bersumber dari para pendatang. Ya, bisa dilihat bahwa sebenarnya kendaraan ‘asli’ Jogja tidak terlalu banyak, terbukti untuk cakupan satu provinsi, pelat AB tak kunjung mencapai tiga huruf di belakang angka, seperti yang telah terjadi di wilayah Solo Raya (pelat AA), Semarang Raya (pelat H), Malang Raya (pelat N), dan lain sebagainya. Lalu, menurut saya, dengan Jogja yang ikonik sebagai pusat pendidikan dan pariwisata, wajar saja jalanan Jogja dibanjiri para pendatang, terutama di wilayah Sleman dengan banyak perguruan tinggi terkemuka. Lalu, juga amat wajar ketika para pendatang tersebut membawa kendaraan mereka kemari. Beberapa kawan saya dari luar Jogja yang pernah mencoba menggunakan bus sebagai sarana transportasi untuk pergi dan pulang kuliah akhirnya terpaksa menyerah karena keadaan. Memang jelas sekali, itu bukan salah pendatang!

Melihat buruknya sistem transportasi umum di Kabupaten Sleman, pada saat ini dapat dikatakan bahwa masyarakat sudah tidak mau menggantungkan diri lagi kepada moda transportasi umum apapun. Parahnya, pada saat ini bahkan amat sering dijumpai anak-anak dibawah umur dengan santainya melintasi jalanan seantero Sleman dengan motor, sebagian masih mengenakan seragam sekolah! Para orang tua pun tidak punya pilihan karena mereka, dengan pekerjaan mereka, tidak bisa selalu ada untuk mengantar dan menjemput anak-anak mereka, ketika di sisi lain layanan transportasi umum yang ada tidak mampu mengimbangi aktivitas para siswa di sekolahnya, terutama untuk mereka yang mengikuti kegiatan ekstrakulikuler di sore hari. Saya termasuk salah satunya, telah aktif mengendarai motor untuk berangkat dan pulang sekolah terhitung sejak kelas 9 SMP. Dan saya tidak sendiri, kebanyakan teman sepantaran saya juga telah melakukan hal yang sama, bermain kucing-kucingan dengan pihak sekolah yang menerapkan larangan bermotor dengan memarkirkan motor di kantong parkir ilegal di seberang sekolah. Ya, bahkan polisi sendiri tidak bisa berbuat banyak untuk mengatasi hal ini, suatu hal yang sebenarnya sangat berbahaya karena akan membuat masyarakat meremehkan aturan hukum yang berlaku.

Memandang lebih jauh, siap tidak siap Sleman harus menerima takdirnya sebagai wilayah perlintasan ketika bandara baru di Kulonprogo mulai beroperasi. Kendaraan-kendaraan dari arah utara dan timur laut akan memilih Sleman sebagai jalur untuk melintas. Beban jalan akan semakin meningkat, terutama untuk wilayah Sleman bagian barat, yang hingga detik ini masih didominasi oleh aktivitas pertanian. Di jalanan Sleman bagian barat dengan lebar yang tidak seberapa itu, masyarakat yang menggunakan jalan untuk aktivitas sehari-hari mesti berebut dengan kendaraan-kendaraan yang datang hanya untuk melintas. Ini merupakan sesuatu hal yang benar-benar baru, dan disinyalir dapat menciptakan berbagai masalah baru yang belum pernah diantisipasi sebelumnya.

Beberapa Langkah untuk Berbenah

Dengan pengidentifikasian masalah yang telah dipaparkan sebelumnya, terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk membenahi sistem transportasi umum di Kabupaten Sleman. Saya berpendapat bahwa permasalahan kesejahteraan sopir menjadi faktor yang perlu dibenahi pertama kali. Untuk menciptakan etos kerja yang baik, sopir angkot dan bus, atau apapun nantinya moda transportasi umum yang ada di Kabupaten Sleman,  harus memiliki jam kerja dan penghasilan yang tetap dan pasti. Agar memiliki wewenang untuk menentukan dan memberikan upah sopir angkutan umum, pemerintah harus dapat mengambil alih kendali operasional angkutan umum sepenuhnya. Dengan kendali penuh dari pemerintah, segala bentuk praktek pungutan liar, terutama yang terjadi di terminal-terminal, dapat dihapuskan. Dengan penghasilan yang tetap dan pasti, para sopir pun dapat bekerja tanpa harus memikirkan besar setoran, sehingga Pemerintah, sebagai pihak yang mempekerjakan mereka, berhak menuntut mereka untuk bekerja dalam waktu operasional yang telah ditetapkan, bahkan hingga malam hari, sehingga layanan transportasi umum menjadi lebih reliabel bagi masyarakat.

Pengaturan ulang trayek angkot dan bus kota juga merupakan hal yang perlu dilakukan. Dalam pengaturan ulang ini, seluruh wilayah Kabupaten Sleman harus dilalui paling tidak oleh satu trayek, tidak seperti pada saat ini dimana terdapat wilayah-wilayah in the middle of nowhere, alias jauh dari manapun. Perlu juga diperjelas mengenai pembagian trayek jarak dekat dan jarak jauh. Trayek jarak dekat diatur agar tidak terlalu lama mengitari rutenya, sedangkan trayek jarak jauh diatur agar tidak terlalu sering berhenti untuk menaikkan dan menurunkan penumpang. Dengan tuntutan tersebut, spesifikasi desain angkutan umum yang melayani rute jarak dekat dan jarak jauh perlu dibedakan. Angkot dapat digunakan sebagai moda transportasi pada trayek jarak dekat, sedangkan bus berukuran besar dapat digunakan untuk melayani trayek jarak jauh. Bus berukuran sedang dapat digunakan baik pada trayek jarak dekat maupun jauh, bergantung dari beban penumpang yang ada pada trayek tersebut. Dengan pengaturan seperti ini, masyarakat akan berbondong-bondong kembali menggunakan angkutan umum karena memiliki keyakinan bahwa kalaupun memang harus menunggu, angkutan umum pasti akan melintas dan selalu ada.

Setelah selesai dengan urusan sopir dan trayek, Pemerintah harus berusaha di tingkat masyarakat. Tentu saja, keringanan ongkos untuk pelajar (dan anak-anak) wajib dipertahankan karena mereka adalah salah satu golongan utama pengguna transportasi umum. Pemerintah, melalui institusi kepolisian, wajib menindak tegas pelajar  di bawah umur dan orang tua yang membiarkan anaknya mengendarai kendaraan bermotor sendirian. Pihak sekolah juga harus dilarang untuk memfasilitasi siswa-siswinya yang mengendarai kendaraan bermotor ke sekolah, dengan adanya larangan untuk memarkir motor di sekolah. Hal ini juga harus diikuti dengan penertiban berkala kantong-kantong parkir ilegal di sekitar sekolah. Pendirian kantong-kantong penitipan sepeda juga dapat dilakukan secara merata di seluruh wilayah Kabupaten Sleman pada titik-titik yang ramai digunakan masyarakat untuk menunggu angkutan umum. Bila hal-hal ini sudah mulai dilaksanakan, sebagai masyarakat tentu kita wajib mendukung penuh, untuk menciptakan jalanan yang lebih ramah untuk semua orang. Dengan demikian, di masa depan tidak ada lagi Jan-Jan lain yang sampai banjir peluh untuk menanti angkot, yang tidak akan pernah datang untuknya!

Ya juga, siapa tahu cinta sejatimu adalah orang yang beradu lutut denganmu di angkot yang penuh sesak penumpang!

 

Muhammad Irsyad Adireja

Anggota Komunitas Pemuda Tata Ruang, sedang mengarsipkan kumpulan tebak-tebakan otentik di Twitter

Add comment


Security code
Refresh

The Best betting exchange http://f.artbetting.net/
Full reviw on bet365 b.artbetting.net by artbetting.net
www.bigtheme.net