Kebermanfaatan Pembangunan

“Penataan bukan untuk memfasilitasi kepentingan kelompok, tetapi untuk mengangkat kondisi sesungguhnya dari ruang tersebut.” (Conyers)

Kebingungan tentang kebermanfaatan pembangunan muncul manakala ada orang yang merasakan manfaat dan adapula yang merasakan kerugian. Ada orang yang merasakan manfaat pembangunan, baik itu mall, hotel, bandara, atau fasilitas lainnya. Mereka mendapatkan rupiah, mendapatkan aksesibilitas, mendapatkan layanan lebih. Namun sebagian ada juga yang merasakan kerugiannya, tergusur, tercampakkan, atau bahkan meninggal.

5 Cara Mengurai Kemacetan KRL di Manggarai ala Petarung, Semuanya Keren-Keren Sob!


Ilustrasi Rencana Pengembangan Kawasan Manggarai (Sumber Foto: http://cdn2.tstatic.net/wartakota/foto/bank/images/stasiun-manggarai_20170325_145827.jpg)

Kereta api terjebak macet! Moda transportasi yang kerap disanjung sebagai solusi kemacetan perkotaan ini bisa juga sampai terjebak macet. Mencengangkan, bukan?

Kesetaraan atau Keseimbangan?

 Sumber: Cultural Organizing 

Sebelumnya saya akan bercerita sedikit mengenai pengalaman di Komunitas Petarung Tahun 2013 lalu. Ketika itu saya baru menjadi bagian dari komunitas ini dan dengan jiwa mahasiswa baru yang masih semangat dalam mendalami ilmu tata ruang, saya mengikuti salah satu kegiatan FGD (focus group discussion) bersama anggota baru lainnya.

Non-Motorized Transportation dan Kultur Berjalan Kaki Kita

Foto: Dokumentasi Komunitas Pemuda Tata Ruang

 

Non-motorized transportation (NMT) adalah pendekatan baru yang cocok diterapkan untuk mengurai masalah transportasi di Jogja. Sesuai namanya, NMT mengandalkan moda transportasi seperti sepeda dan berjalan kaki dalam sistem utama transportasi kota. Apapun jenis transportasi lain asalkan tidak bermesin (misal: dokar atau becak), itu juga bisa masuk hitungan sebagai NMT. Transportasi umum, kalau tenaga penggeraknya menggunakan mesin, tetap diadakan dan menjadi sistem pendukung.

Lantas kenapa pendekatan ini dipandang cocok untuk Jogja? Karena pendekatan ini lebih banyak fokus ke kultur daripada infrastruktur. Nah soal kultur, walaupun pendekatan ini bisa dibilang baru buat banyak kota di negara berkembang, kultur ini sama sekali bukan hal baru buat Jogja. Sebelum akrab dengan kemacetan, Jogja sudah cukup lama pernah menerapkan kultur NMT ini, setidaknya sampai Herry Zudianto selesai menjabat sebagai walikota. Memang sih nggak pakai label mentereng dan keminggris. Waktu itu labelnya lebih sederhana dan sangat njogjani sekali: "Sego Segawe". SEpeda kangGO SEkolah lan nyambut GAWE. (baca: Sepeda untuk bersekolah dan bekerja)

The Best betting exchange http://f.artbetting.net/
Full reviw on bet365 b.artbetting.net by artbetting.net
www.bigtheme.net