Belajar Merawat Pohon à la Negeri Singa

Salah satu sudut Singapura di daerah Ang Mo Kio. Asri ya?
(sumber gambar: straitstimes.com)

Setiap orang pasti setuju kalau pohon adalah benda atau objek yang dapat meningkatkan citra suatu kota. Suasana rindang, hijau nan asri terhampar di pelupuk mata manakala suatu kota dipenuhi dengan pohon. Pohon sendiri juga merupakan salah satu komponen utama dalam pembentukan ruang terbuka hijau. Dari pernyataan di atas, dapat disimpulkan bahwa manfaat pohon sangatlah banyak dan tentu kita sebagai masyarakat sepakat kalau pohon harus menjadi objek penting di dalam kota, kan?

Namun, belakangan muncul kasus-kasus dimana keberadaan pohon justru menimbulkan petaka bagi masyarakat di sekitarnya. Berita-berita pohon tumbang sebagai contoh pun selalu membumbui laman surat kabar ketika musim penghujan tiba. Korbannya pun bukan hanya barang atau aset, namun juga jiwa manusia. Berkaca dari hal tersebut masyarakat pun serba dilematis. Keberadaan pohon di satu sisi menguntungkan namun di sisi lain dapat menjadi petaka yang mengancam tanpa tahu kapan bahaya pohon tumbang datang. Oleh karena itu perawatan pohon menjadi hal yang utama dalam menjaga keberadaan pohon di dalam kota.

SDGs: Tujuan Ambisius dengan Strategi Sederhana

17 Tujuan SDGs (sumber gambar: wikipedia.org)

Sustainable Development Goals (SDGs) yang akhir-akhir ini menjadi perbincangan dalam pembangunan merupakan pemikiran lanjutan dari Millenium Development Goals (MDGs) yang berakhir pada tahun 2015. SDGs sendiri memiliki 17 tujuan dan 169 target yang harus dicapai pada tahun 2030. Target-target yang ingin dicapai dari SDGs ini jauh lebih detil dan menjangkau multi-sektor dibandingkan dengan MDGs. Secara global, SDGs sendiri memiliki tiga tujuan prioritas yaitu kesejahteraan masyarakat, keadilan sosial, dan kelestarian lingkungan.

Menjahit Semarang Atas dengan Jalan Lingkar Selatan

 Sumber gambar: kompasmuda.com

Timpang.

Itu satu kesan yang saya dapat selama ini mengikuti informasi mengenai pembangunan Semarang. Bagi yang belum begitu mengenal Semarang, ibukota Jawa Tengah ini oleh warganya kerap “dibagi” menjadi Semarang bawah dan Semarang atas. Semarang bawah mencakup daerah dataran rendah yang dekat dengan pantai, serta menjadi pusat perekonomian dan pemerintahan kota Semarang. Kebanyakan obyek wisata kota yang terkenal juga berlokasi di Semarang bawah. Misalnya saja Tugu Muda, Lawang Sewu, Sam Poo Kong, Gereja Blenduk, atau Masjid Agung Jawa Tengah. Sedangkan  Semarang atas adalah daerah kota Semarang berada di kaki Gunung Ungaran dengan kontur berbukit-bukit.

Stakeholders Discussion “Urban Culture Inclusive city”

(17/5) Komunitas Pemuda Tata Ruang menghadiri sebuah forum diskusi yang diadakan oleh Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dengan tema “Inclusive City”. Tidak hanya di Yogyakarta beberapa forum diskusi juga dilaksanakan di kota-kota besar di Indonesia seperti di Semarang dengan tema Resilient City, dan juga di Bali.  Agenda ini diharapkan akan menjadi draft bahan untuk menuju HABITAT III. Forum yang dilaksanakan di Hotel Jambuluwuk ini merupakan rangkaian acara persiapan menuju PrepCorm (Preparatory Committew Meeting) 3 di Surabaya Juli 2016, yang nantinya akan didiskusikan di Surabaya dan kemudian dibawa ke Forum UN HABITAT (United Nation Human Settlements Programme) III di Quito Ekuador, Oktober mendatang.

The Best betting exchange http://f.artbetting.net/
Full reviw on bet365 b.artbetting.net by artbetting.net
www.bigtheme.net