Jangan Buat Bumi Menunggu!

Oleh: Glenysz Febryanti

Manusia hidup membutuhkan ruang (space) yang harus sesuai dengan kebutuhan hidup manusia untuk bergerak, berpindah, dan menetap, bahkan manusia mati pun membutuhkan ruang. Selain ruang, manusia juga membutuhkan sumber daya. Populasi penduduk Indonesia bahkan dunia yang terus meningkat mengartikan bahwa bahwa bumi harus memproduksi lebih banyak sumber daya. Ini tentu bukan hal yang dengan mudahnya akan tercipta. Untuk memenuhi sumber daya tersebut bumi memerlukan partner kerja-nya. Tentu saja manusia.

Masalah muncul ketika ketersediaan sumber daya tidak mampu memenuhi permintaan sumber daya. Apakah sumber daya dapat selalu bertahan? Ketersediaan sumber daya alam adalah salah satu hal penting yang harus selalu dijaga dan dilestarikan. Sumber daya adalah modal dasar pembangunan dan harus dimanfaatkan sebaik-baiknya, tetapi tidak dengan cara merusak. Sumber daya alam inilah yang menjadi potensi alam yang dapat dikembangkan untuk proses produksi dan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia.

Bumi ini mempunyai kapasitas yang luar biasa untuk menunjang kehidupan. Akan tetapi, seiring dengan bertambahnya penduduk yang terus menguras sumber daya bumi yang melimpah maka ini menjadi hal mengkhawatirkan. Banyak yang kita takuti, terutama apakah selalu ada cukup makanan dan sumber daya? Dunia sebenarnya menghasilkan pangan atau sumberdaya yang cukup, hanya saja seringkali berada di tempat yang salah atau disimpan cukup lama di suatu tempat.

Urban Forest, Nasibmu Kini...

Oleh: Testianto Hanung Fajar Prabowo

Kota Solo akhir – akhir ini mengalami perkembangan yang luar biasa dalam pemenuhan kebutuhan ruang terbuka hijau untuk mewujudkan visinya, yaitu Eco-Cultural City. Menurut Badan Lingkungan Hidup Kota Surakarta tahun 2012, ruang terbuka hijau (RTH) di Kota Solo telah mencapai 11,9% dari luas kota dengan telah selesainya pembangunan taman–taman yang berada di tepi sungai maupun di pusat kota. Salah satu taman yang baru selesai dibangun adalah taman di tepi Sungai Bengawan Solo yang  bernama Urban Forest III. Urban Forest III tersebut berada di kelurahan Pucang Sawit Kota Solo.

Kondisi urban forest III setelah pembangunan
Sumber : www.solopos.com

Urban Forest III yang berbentuk taman tersebut dibangun mainan anak, sarana olahraga dan juga ditanam berbagai tanaman dengan jalan setapak yang mengitarinya. Selain itu, terdapat juga monumen banjir sebagai peringatan banjir besar Kota Solo pada tahun 2007. Fungsi utama urban forest III adalah sebagai tempat peresapan air dan melindungi daerah bantaran dari luapan banjir (green belt). Selain itu, juga sebagai ruang terbuka hijau dan ruang terbuka publik, yaitu wahana permainan anak dan olahraga. 

Menata Ruang, Menata Masa Depan

Oleh: Rendy Adriyan Diningrat

Tiap tahun, pasca revolusi industri, perkembangan penduduk dunia terus mengalami peningkatan. Dalam catatan PBB dipaparkan bahwa pada tahun 2011 sekitar 6,8 milyar manusia telah menempati daratan bumi dengan kecenderungan bertambah 100 juta jiwa tiap tahunnnya. China dengan luas daratan 9,6 juta km2 menampung lebih dari 1,5 miliar manusia dan menjadi juara bertahan sejak beberapa dekade terakhir disusul oleh India (1,3 miliar jiwa), Amerika Serikat (313 juta jiwa), Indonesia (242 juta jiwa), dan Brazilia (196 juta jiwa).


Gambar 1. Distribusi Penduduk Dunia

 Source: United Nation, diakses 2010 dengan olahan

Meningkatnya populasi penduduk dunia berarti searah dengan meningkatnya kebutuhan hidup manusia baik secara kuantitas maupun kualitas. Dalam studi ekonomi, kebutuhan manusia diartikan sebagai “demand” (permintaan) yang akan dipenuhi oleh faktor “supply” (penyedia) berupa sumber daya alam maupun buatan. Kebutuhan-kebutuhan ini dapat direfleksikan melalui tiga kerangka besar, yakni 1) kebutuhan dasar, 2) kebutuhan ruang, serta 3) kebutuhan pergerakan.

Jane Jacobs

 

Jane Jacobs

Jane Jacobs adalah seorang jurnalis dan urban activist. Jacobs  lahir di Scranton, Pennsylvania tahun 1916. Pegalaman bekerjanya cukup banyak antara lain  pernah bekerja di Architectural Forum tahun 1952 sebagai Associate Editor. Pada tahun 1962 sempat menjadi direktur pada Joint Committee untuk memberhentikan Manhattan Expressway. Kemudian Jacobs pindah ke Toronto pada tahun 1968 dan bekerja pada sebuah urban activist sampai akhir hayatnya.

Karya Jacobs yang terkenal adalah The Death and Life American Cities pada tahun 1961. Buku tersebut menjadi the best urban planning Book all of time oleh Planetizen.  The Death and Life American Cities telah menjadi inspirasi bagi para planner di Amerika dan mempengaruhi perkembangan kota-kota di sana. Uniknya, Jacobs sama sekali tidak pernah mengikuti training mengenai planning secara khusus. Dalam buku tersebut, Jacobs  banyak memberikan kritik terhadap konsep garden city (Ebenezer Howard), radiant city (Le Corbusier)  dan city beautiful movement (Robert Moses). Jacobs juga berusaha mengkritik kebijakan-kebijakan perencanaan kota abad 20 di Amerika.

The Best betting exchange http://f.artbetting.net/
Full reviw on bet365 b.artbetting.net by artbetting.net
www.bigtheme.net