Petarung Hadiri The 3rd Urban Social Forum: Another City is Possible!

Sabtu lalu (19/12), Komunitas Pemuda Tata Ruang diundang untuk hadir di Surabaya untuk menghadiri acara The 3rd Urban Social Forum (USF) yang mengambil tajuk “Another City is Possible!”. USF sendiri merupakan acara tahunan yang diinisiasi oleh Yayasan Kota Kita, sebuah komunitas sosial yang berbasis di Solo. Gelaran USF dimaksudkan menjadi forum dialog terbuka bagi siapa saja yang ingin mencari jawaban atas berbagai permasalahan yang tengah dihadapi kota saat ini.

Petarung Sampaikan 3 Gagasan Terciptanya Kerjasama untuk Mewujdkan Tertib Tata Ruang Joglosemar

Peserta Focus Group Discussion Peningkatan Kerjasama untuk Mewujudkan Tertib Tata Ruang yang digelar Kementerian Agraria dan Tata Ruang pada 6 November 2015 lalu

Tanggal 6 November 2015 lalu, Komunitas Pemuda Tata Ruang diundang oleh Direktorat Jenderal Pengendalian Pemanfaatan Ruang dan Penguasaan Tanah (Dirjen PPRPT), Kementerian Agraria dan Tata Ruang dalam Focus Group Discussion (FGD) bertemakan “Peningkatan Kerjasama untuk Mewujudkan Tertib Tata Ruang”. FGD yang dilaksanakan di Hotel Inna Garuda Malioboro, Yogyakarta ini dilaksanakan dengan tujuan terciptanya gagasan-gagasan serta usulan agar terciptanya tertib tata ruang di Kawasan Joglosemar (Yogyakarta, Solo, dan Semarang). Sesuai dengan ruang lingkup kawasan topik yang dibahas, peserta FGD pun berasal dari ruang lingkup yang sama pula. Peserta yang diundang berasal dari pemerintah (Bappeda DIY & Jateng, BPN DIY & Jateng), pihak penegak hukum (Polda DIY & Jateng dan Kejaksaan DIY & Jateng), serta perwakilan dari masyarakat yang dihadiri oleh Petarung dan Real Estate Indonesia.

Acara dimulai pukul 09.30 dengan pembukaan dari Bapak Gunung selaku perwakilan dari Dirjen PPRPT Kemen ATR. Beliau menyampaikan 4 poin utama dalam presentasi pembukaan, yaitu pengendalian dan pemanfaatan ruang dalam penyelenggaraan tata ruang, permasalahan, kebutuhan kerjasama, dan kajian kelembagaan dalam mewujudkan tertib tata ruang.

Dalam presentasinya, Bapak Gunung membuat kesimpulan umum terkait permasalahan pengendalian pemanfaatan ruang yang disebabkan oleh 6 faktor yaitu faktor kurangnya referensi peraturan, kurangnya perangkat hukum, banyaknya kepentingan di luar tata ruang, kurang visionernya stakeholder, keterbatasan SDM, dan sistem yang belum transparan. Bapak Gunung dalam presentasinya juga memberikan pandangan pentingnya kerjasama kelembagaan  antar daerah dalam hal tindak preventif dan represif agar lebih efektif dan efisien. Namun dalam hal pengendalian ruang, tindakan represif dilakukan ketika diperlukan, jadi tindakan preventif lebih diutamakan dalam pengendalian pemanfaatan ruang.

Pembicara kedua adalah Bapak Suryanto, Dosen Perencanaan Wilayah dan Kota UGM. Beliau menyampaikan materi mengenai bagaimana meningkatkan kerjasama antar daerah di Joglosemar, khususnya pengendaliaan pemanfaatan ruang. Dalam presentasinya, Bapak Suryanto mensyaratkan bahwa untuk mewujudkan tertib pemanfaatan ruang antar wilayah, harus ada dua syarat yang harus dipenuhi, yaitu (1) adanya instrumen penataan ruang yang dijadikan acuan dan (2) adanya organisasi yang mampu untuk mengatur, membina dan mengawasi pelaksanaan penataan guna ruang.

Pemaparan dari Bapak Suryanto

Setelah istirahat Solat Jumat dan makan siang di resto hotel, acara dilanjutkan dengan pemaparan dari Bapak Sutrisno. Sebagai catatan, Bapak Sutrisno pernah menjabat sebagai Kepala Bappeda Daerah Istimewa Yogyakarta dan Sekda Sleman. Saat diundang di FGD kemarin, bapak Sutrisno hadir sebagai akademisi dan inisiator program kerjasama antar wilayah Kartamantul dan Java Promo. Dalam presentasinya yang disusun berdasarkan pengalaman pribadinya, Pak Sutrisno menegaskan bahwa untuk mencapai taraf kerjasama yang dilakukan perlu kesepahaman antar belah pihak yang mencakup lima aspek, yaitu kerjasama dilakukan dengan asas kebermanfaatan, demi kepentingan umum, mengedepankan good governance, mau negosiasi apabila terjadi kekurangan, dan realistis terhadap kondisi saat ini.

Pemaparan dari Bapak Sutrisno

Petarung yang diundang sebagai perwakilan masyarakat/swasta dalam FGD ini menyampaikan tiga poin gagasan demi terciptanya tertib tata ruang di kawasan Joglosemar, khususnya dari perspektif masyarakat. Petarung, beberapa hari sebelum FGD dilaksanakan, menyebarkan kuesioner online yang mencakup pertanyaan mengenai tanggapan masyarakat tentang penataan ruang joglosemar dan saran mengenai koordinasi antar lembaga di Joglosemar. Hasil dari kuesioner tersebut dijadikan bahan bagi Petarung untuk memberikan gagasan terkait tema FGD. Adapun gagasan-gagasan yang dibawa oleh Petarung adalah:

1.   Melakukan Sosialisasi dengan Media Alternatif

Petarung memberikan gagasan terkait hal ini karena, Petarung melihat banyak sekali peluang yang dapat digali dari media-media alternatif selain TV, radio, dan surat kabar. Media-media alternatif dapat berupa media sosial yang saat ini sedang menjadi tren di masyarakat dapat dimanfaatkan oleh pemerintah untuk melakukan sosialisasi. Terlebih saat ini masyarakat banyak yang masih awam terkait penataan ruang dan dengan penggunaan media sosial penataan ruang dapat dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat.

2.   Membuat Website Penataan Ruang Joglosemar

Petarung melihat apa yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Surabaya dalam mengaplikasikan peta tata ruang wilayah kota ke dalam website merupakan langkah yang dapat diterapkan dalam memberikan pengetahuan kepada masyarakat terkait tata ruang Joglosemar. Website Joglosemar dapat diisi dengan informasi-informasi seperti peta digital, peta rencana tata ruang, dan lain-lain.

3.   Skema Pengaduan Penyimpangan Tata Ruang oleh Masyarakat

Masih minimnya informasi cara pelaporan apabila terjadi penyimpangan tata ruang membuat masyarakat seakan-akan membiarkan apabila terjadi penyimpangan tata ruang. Oleh karena itu Petarung merumuskan skema pengaduan apabila terjadi penyimpangan tata ruang.

Hasil FGD dengan SKPD dan lembaga penegak hukum di Joglosemar ini nantinya akan dijadikan rekomendasi peningkatan kerjasama antar daerah karena saat ini belum ada instrumen yang secara khusus dijadikan pedoman kerjasama antar daerah. Apabila instrumen ini dapat diaplikasikan dalam kerjasama antar daerah, diharapkan penataan ruang di kawasan kerjasama dapat menjadi optimal.

 

Boedoet, Friska Okta M, Yudha

Tim FGD Joglosemar Komunitas Pemuda Tata Ruang

 

 

 

Bermimpi Untuk Kemudian Berpartisipasi: Kampung Impian Anak, RW 12 Prawirodirjan Yogyakarta

Bertepatan dengan perayaan Hari Agraria Nasional dan Tata Ruang, Minggu 08 November 2015, Petarung menghadirkan kegiatan Kampung Impian Anak yang berlokasi di Kelurahan Prawirodirjan RW 12, Gondomanan Kota Yogyakarta. Kegiatan ini dihadiri oleh anak-anak SMP dan SMA dari FKRA (Forum Kampung Ramah Anak) dan Ibu Tami selaku ketua RWyang sekaligus menjadi fasilitor acara.

HENTIKAN ASAP: As Soon As Possible!

 

Pada hari Jumat, 9 Oktober 2015, Komunitas Pemuda Tata Ruang bekerja sama dengan UKM Unit Penalaran Ilmiah (UPI) Interdisipliner UGM dan Himpunan Mahasiswa Jurusan SIG PW (ARDGISS) UGM mengadakan diskusi publik dengan tajuk : "Hentikan ASAP" As Soon As Possible! yang bertempat di Auditorium B Fakultas Geografi UGM.Kegiatan ini mendiskusikan tentang permasalahan dan solusi cerdas menghadapi kebakaran hutan, penataan ruang, dan pembangunan yang bekelanjutan bersama Dr. Sutaryono, Drs. Andreas Budi Purnomo Brodjonegoro, M.A, dan Wiyono, S.Hut, M.Si sebagai narasumber serta M. Retas Aqabah Amjad sebagai moderator.

The Best betting exchange http://f.artbetting.net/
Full reviw on bet365 b.artbetting.net by artbetting.net
www.bigtheme.net