Jalan-Jalan Desa Sukunan

Komunitas Pemuda Tata Rang Jalan Jalan Desa Sukunan.

Sumber : Dokumentasi PETARUNG

 

Goes to Village! Setelah beberapa waktu lalu Pemuda Tata Ruang mengadakan diskusi mengenai One Product One Village bersama Go Pangan Lokal, kami pun mengunjungi Desa Sukunan sebagai salahsatu desa yang memiliki OVOP. Namun tidak hanya mempelajari OVOP Desa Sukunan yang berbasis Desa Wisata Lingkungan, kami juga melakukan jalan-jalan pertama bersama beberapa perwakilan divisi komunitas Batch 4 di Yogyakarta. Dimulai dari berangkat bersama, kemudian mendengarkan presentasi dari pengurus Desa, jalan-jalan sekitar Desa untuk melihat pengelolaan sampah, hingga foto dan makan bersama.

Jalan-Jalan Kauman: Menyusuri Sepotong Sejarah Yogyakarta

Berbahagialah mereka yang dapat mengetahui sejarah, menyatukan keping-keping masa lalu yang berserakan dan mengambil hikmahnya.

Sebagai kota bersejarah, rasanya setiap sudut kota Yogyakarta menceritakan peristiwa yang menarik. Untuk mengetahui sebagian kecil sejarah Kota Yogyakarta, Komunitas Pemuda Tata Ruang bersama Edu Hostel melakukan Walking Tour Kampung Kauman pada hari Sabtu, 12 September 2015. Walking tour dilakukan menuju bekas Stasiun Ngabean, Kampung Suronatan, Kampung Gerjen, dan Kampung Kauman. Tempat-tempat ini merupakan tempat dimana sejarah kecil kota Yogyakarta terjadi.

Petarung Hadiri Jalan Remaja #KitaSensitif oleh Yayasan Kampung Halaman

Yayasan Kampung Halaman berkolaborasi dengan Mulyakarya dan Jalan Remaja 1208 kembali mengadakan event Jalan Remaja,yang tahun ini bertemakan #KitaSensitif. Komunitas Pemuda Tata Ruang berkesempatan untuk menghadiri event tahunan ini. Event yang digelar untukmemperingati Hari Remaja Internasional ini dilaksanakan di Bentara Budaya Yogyakarta pada Rabu, 12 Agustus 2015. Acara yang diselenggarakan adalah Bioskop Remaja, panggung kesenian, dan membuka pameran komik .

Bioskop Remaja dimulai pada jam 15.30 WIB di ruang pameran BBJ. Video diari yang menceritakan sudut pandang remaja dalam melihat kehidupan sehari-hari tayang sebagai pembuka pameran.  “Perempuan, No.1 atau 2?” (karya Pesantren Aswaja Nusantara Mlangi), “Beda Paham Toa Masjid” (karya SMA Bukateja Purbalingga), dan “Ini Cerita Kami” (karya TBM Sangkanparan) menjadi tiga video remaja terbaik yang ditampilkan di Bioskop Remaja.

Usai tayangan Bioskop Remaja, acara dilanjutkan dengan panggung seni di pelataran BBJ. PSM Swarawadhana dari Universitas Negeri Yogyakarta menjadi penampil pertama. Paduan suara ini terdiri dari remaja dari beragam latar belakang agama. Mereka sering pula tampil menyanyikan lagu rohani di gereja. Sedangkan The Night Pray Hip Hop, merupakan penampil yang menyuarakan sikap hidup yang damai dan islami lewat musik hip hop. Penampil ketiga, yaitu komunitas RBIB Jogja yang menceritakan upaya mereka dalam memberikan kesempatan belajar bagi anak-anak dan remaja di bantaran sungai Code Jogja. Sedangkan di akhir pentas, PKBI Youth Forum bersama Dance4Life mengajak penonton untuk menari bersama untuk mensukseskan gerakan peduli terhadap korban serta penanggulangan HIV/AIDS.

Sedangkan pameran komik berjudul “Kuda Liar..Ekornya Susah Dipegang” berlangsung selama empat hari hingga Sabtu, 15 Agustus 2015. 21 karya komik yang dipamerkan adalah hasil workshop yang diikuti komikus remaja SMP, SMA dan mahasiswa yang terselenggara pada tanggal 1 dan 2 Juli 2015 lalu di Bentara Budaya Jogja dengan Mulyakarya sebagai fasilitator.

Dalam pameran ini, para komikus didorong untuk berani bercerita dengan karakter masing- masing serta lebih sensitif terhadap masalah-masalah di sekeliling mereka. Dengan latar belakang yang beragam, dari yang belum pernah membuat komik hingga yang sudah berpengalaman, Kampung Halaman dan Mulyakarya ingin pengunjung pameran melihat bahwa dengan media komik, remaja bisa menceritakan hal-hal yang diamati di sekitarnya dan menyikapi hal-hal tersebut secara kritis. Pengunjung juga diajak melihat potensi komik sebagai medium yang bisa digunakan oleh remaja untuk berpendapat dan bersikap atas isu-isu yang umumnya dianggap sensitif dengan cara yang kreatif. Semisal, kerenggangan ikatan sosial antar tetangga hingga maraknya pembangunan hotel dan mal.

 

Melalui event Jalan Remaja #KitaSensitif dan Hari Remaja Internasional, para remaja seakan ingin menunjukkan eksistensi dunia mereka. Mereka menawarkan cara pandang remaja dalam melihat persoalan masyarakat. Selain itu, mereka membuktikan remaja pun mampu terlibat berkontribusi positif dalam menyelesaikan masalah yang ada di masyarakat dengan cara yang khas remaja. (Ageng Yudhapratama & Della Anggun Lestari)

What We Don’t Talk About, When We Talk About Bandung: Diskusi Publik “Bandung Under its Grand Illusion”

4 Juli 2015, tepatnya pada pukul 14.00 diadakan sebuah diskusi publik bertemakan ‘Bandung Lautan Gimmickyang bertempat di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung Jawa Barat. Perwakilan Komunitas Pemuda Tata Ruang berkesempatan untuk menghadiri diskusi ini, yang juga merupakan salah satu rangkaian acara dari first project Bandung City Watch yang diinisiasi oleh komunitas Rakapare. Dengan judul ‘Bandung Under its Grand Illusion’, diskusi ini dihadiri oleh tiga pembicara. Pertama ialah Rizky Wiryawan sebagai founder dari Komunitas Aleut. Pembicara kedua ialah Dian Tri Irawaty sebagai program manager dari lembaga Rujak Center for Urban Studies. Dan terakhir ialah Pedro Apricio, Kandidat ahli dalam studi perkotaan, landscape, dan lingkungan di Harvard University Graduate School of Design yang juga sebagai warga asli Kota Bogota.

The Best betting exchange http://f.artbetting.net/
Full reviw on bet365 b.artbetting.net by artbetting.net
www.bigtheme.net